Pemahaman Peta Konsep Kajian Aqidah Islam
BAB
I
PENDAHULUAN
ABSTRAK
Keyakinan kepada
Allah Yang Maha Esa (Tauhid) merupakan titik sentral keimanan, karena itu
setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada
Allah SWT. Iman atau yakin kepada Allah SWT adalah ilah (sembahan) yang benar.
Allah berhak disembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah Pencipta
hamba-hamba-Nya. Dialah yang memberi rezeki kepada manusia. Pekerjaan seorang
muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah akan
mempunyai nilai ibadah di sisi Allah. Untuk tujuan ibadah inilah Allah
menciptakan jin dan manusia sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan
supaya mendirirkan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama
yang lurus". ( Al-Bayyinah (98): 5 )
“ Sungguh Aku tidak menciptakan jinn dan manusia, melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku.” ( Qs. Adz-Dzariyat
(51): 56 ).
Dengan kita
merenungi beberapa Firman Allah diatas kita wajib percaya 100% akan Allah Tuhan kita. Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang
menciptakan segala sesuatu dan Dia pasti adanya. Dialah yang tanpa permulaan
dan tanpa penghabisan. Kita yakini benar Wujudullah,
kita amalkan Tauhidullah berupa
Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah dan Tauhid Ulluhiyah atau Asma’wa-Shiffat.
Serta benar-benar mengamalkan kalimat Tauhid kita kepada Allah yaitu dengan
tidak mengotori kalimat La Illaha Ilallah
kepada suatu kesyirikan.
Maka dari itu iman kita yakini dalam hati, ucapkan
dengan lisan, dan diamalkan dengan
perbuatan. Sehingga umat muslim harus konsekuen, dengan apa yang diyakini dalam
hidupnya dan diucapkan oleh lisanya.
Yaitu dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya, memperbanyak amal shaleh, menghindari perbuatan tercela yang
merusak iman kita kepada Allah SWT.
Kata
Kunci: Iman, Wujudullah, Tauhidullah, Hakikat dan Dampak La Ilaha
Illallah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN IMAN
§ Definisi Iman Secara Bahasa
Secara etimologi, iman berarti pembenaran hati.
§ Definisi Iman Secara Istilah
Secara terminologi, iman berarti pembenaran dengan
hati,pengakuan dengan lisan,dan pengamalan dengan anggota badan. Bahkan
imam syafi’i meneritakan bahwa ini adalah ijmak para sahabat,tabi’in dan
generasi setelah mereka yang bertemu dengan mereka dalam keadaan beriman.
Kita semua telah mengetahui jawaban Rasulullah
SAW dalam beberapa hadits. Beliau juga meneyebut banyak hal (dalam sabda
beliau) seperti akhlak mulia, murah hati, sabar, cinta Rasul dan kaum Anshar,
serta memiliki rasa malu dan banyak hal lain, itu disebut dengan sebutan iman. Keimanan yang berarti pembenaran
secara batin. Namun, beliau tidak mengkhusukan iman dengan perkara-perkara yang
bersifat batin. Sebaliknya, beliau menyebutkan bahwa amalan-amalan lahiriyah juga disebut dengan keimanan, dan
sebagainya lagi ada yang beliau sebut dengan islam.
Maka dari itu iman kepada Allah
adalah jantung/inti dari agama islam yang merupakan point utama rukun iman.
Dan berikut ini
beberapa perjalanan dalam proses keimanan manusuia:
a. Proses Munculnya Iman
Proses munculnya iman seseorang adalah sebuah
perjalanan yang panjang, benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan
memerlukan pemupukan yang berkesinambungan. Benih yang unggul apabila disertai
pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi subur. Demikian halnya
dengan benih Iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan
iman/kepribadian seseorang baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan
pendidikan. Pada dasarnya proses munculnya iman seseorang tergantung keinginannya
menerima hidayah atau tidak sesuai firman Allah:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ
فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ
نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ
كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Dan
katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa ingin
beriman, hendaklah ia beriman dan barangsiapa ingin kafir biarlah ia
kafir”…….(QS.Al-Kahf [18]: 29). Dan juga firman Allah:
إِنْ تَكْفُرُوا
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ
وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ
ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Jika kamu kafir Allah juga
tidak memerlukan imanmu dan Dia tidak meridhoi kekafiraran bagi hamba-Nya; dan
jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu”……(QS.
Az-Zumar [39] : 7). Maka
proses perawatan iman untuk muncul dan
tumbuh serta sangat diperlukan sekali yaitu dengan cara mengikuti
majelis ilmu agama.
b. Proses
Munculnya Keraguan
Rasulullah SAW bersabda: “Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian
lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan
bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia
berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).”
(HR. Muslim).
Proses munculnya keraguan dalam
iman bisa terjadi pada setiap diri manusia hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor tertentu yang dapat mempengaruhi terutama syaitan dan pergaulan. Faktor
utama itulah yang akan mempengaruhi muncul seperti mulai berandai-andai tentang
Allah dan mulai berprasangka kepada Allah tentang apa yang tidak diketahuinya.
Sehingga Allah melarang kita untuk berprasangka, seperti firman Allah SWT yang artinya: ”Wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak
prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa”.......(QS. Al-Hujarat [49]:12) dan hadits Rasulullah SAW yang artinya: Jauhilah prasangka, karena prasangka itu
adalah perkara yang paling dusta”.(HR. Bukhari-Muslim)
c.Proses Munculnya Ilmu
Proses munculnya ilmu dalam
konteks keimanan adalah diawali seseorang dengan pembelajaran terhadap ilmu
agama seperti firman Allah yang artinya: .... Dan apabila dikatakan, ”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya
Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah[(58]:11) Setelah seseorang memiliki keimanan tentu
ia akan berusaha menjalankan perintah yang di Imaninya yaitu Allah SWT, maka ia
akan menemukan banyak perintah Allah SWT untuk mentadaburi mahluk dan alam
ciptaan-Nya dengan mepelajari maka muncullah ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu
pengetahuan teknologi.
B. WUJUD ALLAH SWT
Wujud (ada) -Nya Allah SWT
adalah sesuatu yang badihiyah. Namun demikian untuk membuktikan wujud-Nya dapat
dikemukakan beberapa dalil, antara lain :
1. Dalil Fitrah
Allah SWT menciptakan manusia
dengan fitrah ber-Tuhan atau dengan kata lain setiap anak manusia dilahirkan
sebagai seorang muslim. Firman Allah dalam surah AR-rum [30]: 30 yamg artinya: ”
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (islam); sesuai fitrah Allah
disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fithrah) itu. Tidak ada
perubahan terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui”,dan Rasulullah SAW bersabda :
” Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fitrah, maka ibu bapak nyalah ( yang berperan ) ”mengubah” anak itu
menjadi seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi........” (HR. Bukhari )
Fithrah dalam hadits diatas bisa kita pahami sebagai Islam karena
Rasulullah SAW hanya menyebutkan kedua orang tua bisa berperan menyahudikan,
menashranikan atau memajusikan, tanpa menyebut ”mengislamkan”. Jadi hadits
diatas bisa kita pahami setiap anak dilahirkan sebagai seorang yang berpotensi
muslim. Namun, demikian fithrah manusia tersebut barulah merupakan potensi
dasar yang harus dipelihara dan dikembangkan.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa manusia sebenarnya memiliki potensi untuk ber-Tauhid hanya
saja bagaimana nantinya lingkungan dan pola pikir pribagi yang mentukan apakah
mannusia mau berfikir tentang ke-Esaan Allah atau tidak peduli dengan adanya
Tuhan Semesta Alam.
2.Dalil Akal
Dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan
drinya sendiri, hewan, pepohonan dan alam semesta semuanya siapakah yang
mengatur kalau bukan Yang Maha Menguasai. Hal ini membuktikan akan adanya Tuhan
Yang Maha Esa. Seperti fiman Allah dalam al-Qur’an surah Ar-Rum [30]: yang artinya: ”Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang
kejadian diri mereka? Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dalam waktu yang
ditentukan. Dan sungguh banyak manusia mengingkari pertemuan degan Tuhan-Nya”.
Dan pada ayat yang berikutnya surah Ar-Rum[30]:20 yang artinya: ”Dan diantara tanda -tanda (kebesaran-Nya)
ialah ia menciptakan kamu dari tanah, tiba-tiba kamu menjadi manusia yang
berkembang biak”.
Itulah beberapa firman Allah yang menyebutkan
tentang keberadaan-Nya yang Maha Pencipta dan Pemelihara karena segala sesuatu
tentu ada yang mencitakan dan ada yang memelihara. Ada 9 teori fenomologis
untuk membuktikan Allah SWT ada dan berkuasa. Fenomena-fenomena tersebut
adalah:
1.
Fenomena Terjadinya Alam
Semesta
2.
Fenomena Kehendak
3.
Fenomena Kehidupan
4.
Fenomena Pengabulan Do’a
5.
Fenomena Hidayah
6.
Fenomena Kreasi
7.
Fenomena Hikmah
8.
Fenomena Inayah
9.
Fenomena Kesatuan
Demikian beberapa fenomena
menurut Sa’id Hawa yang kami kutip pada buku Kuliah Aqidah Islam karya Prof.
Dr. H, Yunahar Ilyas, LC., MA. Yang sempat beliau kutip juga dari Sa’id Hawa
dalam bukunya ”Allah Jalla
Jala-luhu”(1989).
3. Dalil
Naqli
Sekalipun secara fitrah manusia adapat mengakui adanya Tuhan
dan dengan akal pikiran manusia dapat membuktikannya, namun manusia tetap
memerlukan dalil Naqli (al-Qur’an dan as-Sunah) untuk membimbing manusia
mengenal Tuhan yang sebenarnya yaitui Allah SWT dengan segala macam dan
sifat-Nya. Sebab fitrah dan akal tidak akan bisa menjelaskan siapa Tuhan yang
sesunguhnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah [2]: 2 yang artinya:”Kitab (al-Qur’an) tidak
ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dan pada
ayat selanjutnya ayat ke-21 yang artinya: ”Wahai
manusia! Sembalah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu,
agar kamu bertaqwa. Dengan
demikian pemikiran/akal manusia tidak
menyimpang dari kebenanaran terhadap persangkaannya kepada Tuhan Semesta Alam.
C. TAUHIDULLAH
Esensi iman kepada Allah SWT
adalah tauhid yaitu mengesakannya,baik dalam Dzat, asma’was-shiffaat, maupun
af’al (perbuatan)-Nya. Secara sederhana tauhid dapat dibagi dalam tiga
tingkatan atau tahapan yaitu :
a. Tauhid
Rububiyah
Secara etimologis kata ”Rab”
sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan
mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan,
menyesaikan suatu perkara dan lai-lain. Namun untuk lebih sederhana dalam
hubunganya Tauhid Rububbiyah kita mengambil beberapa arti saja yaitu mencipta,
memberi rizki, mengelola dan memiliki segala sesuatu.
Rububiyah adalah mengEsakan
Allah dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini bahwa dia sendiri yang
menciptakan seluruh makhluk, seperti firman Allah ”Allah menciptakan segala sesuatu”. (QS.Az-zumar (39) : 62) dan yang lain ” Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah
yang memberi rizkinya (QS. Hud (11) : 6.)
b.Tauhid
Mulkiyah
Kata malik yang berarti raja
dan malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang sama yaitu ma-la-ka
si pemilik sesuatu-pada hakikatnya-adalah raja dari sesuatu yang
dimilikinya itu. Dalam pengertian bahasa seperti ini, Allah SWT sebagai Rabb
yang memiliki alam semesta (Al’alamin) adalah raja dari alam semesta tersebut,
Dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap alam
semesta tersebut. Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah
pemilik dan raja langit dan bumi dan seluruh isinya, antara lain dalam surah Al Baqarah [2] : 107 : ”Tiadakah
kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adaalah kepunyaan Allah? Dan
tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong ” (QS.Al
Baqarah [2] : 107 )
c.Tauhid
Ilahiyah
Kata Ilab berakar dari kata a-la-ba ( alif- la- ba ) yang mempunyai
arti antara lain tentram, tenang,
lindungan, cinta dan sembah(’abada). Semua kata-kata ini relevan sengan
sifat-sifat dan kekuasaan zat Allah SWT seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam
kitab suci Al-Qur’an yang artinya : ”
Orang- orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat
Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram ”
(QS.Ar-Ra’du [13]:28). Dan firman Allah yang yang lain yang artinya: ”Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah saja, dan juhilah Thagut”. (QS. An-Nahl [16]:36).
Jadi Tauhid Ilahiyah mengimani
Allah SWT sebagai satu-satunya Al-Ma’bud(yang berhak disembah). Dalam hal ini
Allah SWT juga berfirman yang artinya: ”Seungguhnya
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan Selain Aku, maka sembahlah Aku
(beribadahlah) kepada Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatKu. (QS. Thaha
[20]: 14).
Demikianlah beberapa
bagian-bagian Tauhid agar kita semakin yakin dan percaya akan segala keagungan
Allah SWT.
D.HAKIKAT DAN DAMPAK KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH
a. Makna La Ilaha Illallah
Makna la ilaha illallah dalah meyakini dan megiqrarkan bahwa tidak ada
yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah, menaati hal tersebut
dan mengamalkannya. La ilaha menafikan
hak penyembahan dari selain Allah, siapapun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.
Jadi makna kalimat ini secara
global adalah ” tidak ada sesembahan yang
hak selain Allah”. Dengan demikian La
Ilaha Illallah kalimat Tauhid ini
mengandung pengertian sesungguhnya Tiada Tuhan yang benar-benar benar
berhak disembah selain Allah SWT.
b.Makna
Kata La Ilaha Illallah Harus
Diiringi Muhammad Rasulullah
Iqrar La Ilaha Illallah tidak dapat diwujudkan secara benar tanpa
mengikuti petunjuk yang disampikan oleh Rasulullah SAW. Oleh sebab itu iqrar La Ilaha Illallah harus diikuti iqrar Muhammadad Rasulullah. Dua iqrar ini
dikenal dengan dua kalimat syahadat (syahadatain) yang menjadi pintu gerbang
seseorang memasuki agama Allah SWT.
Iqrar La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah bila dipahami secara benar
tentu akan memberikan dampak positif yang besar kepada setiap pribadi muslim
yang diantara lain dapat diukur dari dua sikap yang dapat dilahirkan yaitu
cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun didunia ini. Allah SWT
berfirman dalam al-Qur’an surah At-Taubah [9]: 24 yang artinya: ”Katakanlah: ’Jika bapak-bapak, anak-anak,
istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatirkan kerugiannya,dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya, maka
tunggulah sampaai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Maka dari itu kita sebagai
muslim harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya
melebihi semua yang ada didunia ini.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Telah
kita uraikan bersama dari Pengertian Iman
(Proses Munculnya Iman, Proses Munculnya Keraguan, dan Proses Munculnya Ilmu),
Wujudullah, Tauhidullah, serta Hakikat dan Dampak Kalimat La
Ilaha Illallah. Maka dari itu mari kita benar-benar mengamalkan point-point yang telah
diuraikan didalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan mengamalkan tersebut
diharapkan dapat menguatkan Aqidah kita yang merupakan pondasi awal berdiri
tegaknya agama islam. Dengan kuatnya pondasi Aqidah maka akan terciptanya
banguan islam yang kokoh tegak berdiri. Sehingga akan terwujudlah masyarakat
isam yang sebenar-benarnya sesuai al-Qur’an dan as-Sunah yang mengantarkan
pemeluknya menuju kebahagian dunia wal akhirat.
B. SARAN
Dalam
penyusunan makalah ini kami Penulis memohon maaf, masukan dan kritikan dari
Bapak Dosen bila mana banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam
penulisan makalah ini agar nantinya kami dapat belajar untuk lebih
baik lagi dalam penulisan makalah yang lain. Melihat uraian diatas dalam konsep aqidah, sudah
sepantasnya kita berkaca pada diri sendiri untuk berintropeksi memperbaiki diri
menuju pribadi yang lebih baik dimata
Allah dengan selalu meningkatkan iman dan taqwa kita setiap saat.
DAFTAR PUSTAKA
Fauzan, Al-Fauzan,
Shalih. 2014. Kitab Tauhid. Jakarta:
Ummul Qura.
Ilyas, Yunahar.
1992. Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta:
Lembaga Pengembangan Studi Islam.
Majelis
Tarjih, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2014. Himpunan
Putusan
Tarjih. Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah.
islam-tentang.html#ixzz4tBj123JA.
Sumber:
www.google.co.id/search?q=proses+munculnya+iman.
