Senin, 21 Mei 2018

Essay

Pengetahuan Berbasis Islam Menjadi Solusi Utama Umat Muslim Indonesia dalam Mengarungi Arus Globalisasi
Oleh:
Muhammad Ilham Sidiq dan Muhammad Syafrizal

Dunia diera digital ini mengalami berbagai perubahan baik di bidang  sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Indonesia sebagai negara berkembang memerlukan sumber daya manusia yang unggul.  Tragedi nol buku, demikian sastrawan senior Taufiq Ismail sampaikan dalam sebuah audiensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2010. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Selain itu, Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara tersebut (https://lifestyle.okezone.com/read/2017). Kenyataan ini sungguh memilukan bangsa Indonesia tidak terkecuali pula umat Islam yang seharusnya dapat mempelopori kemajuan bangsa dengan spirit Islamnya.   Negara ini membutuhkan generasi emas yang berkualitas dengan pengusaan IPTEK yang unggul diberbagai bidang  kehidupan. Terutama generasi muslim harus sadar akan realita negeri ini, dengan spirit Islam diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk  kemajuan  bangsa. Aktualisasi iqra bismirabbikalladzi khalaq harus benar-benar dilakukan dengan mengitegrasikan nilai Islam dengan ilmu pengetahuan. Meneladani dan meneruskan perjuangan para cendekiawan muslim Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Muhammad Taher Jalaludin, Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah, dan Haji Abdullah Ahmad merupakan sarana ampuh dalam memotivasi generasi muslim Indonesia untuk berkarya. Mengolaborasikan nilai Islam harus dilakukan dengan cara menggali dan merealisasikan spirit ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an dan al-Hadis yang akhir-akhir ini terabaikan.
Pengetahuan Berbasis Islam Menjadi Solusi Utama Umat Muslim Indonesia dalam Mengarungi Arus Globalisasi

Perkembangan zaman terus berkembang membawa dampak yang sangat signifikan terhadap pola pikir dan gaya hidup masyarakat di era modern ini. Sebagai intelektual muslim maka harus bangkit dengan berkarya dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi diarus globalisasi ini. Islam memberi berbagai stimulus ilmu pengetahuan terhadap keberlangsungan umat manusia, sehingga para cendekiawan muslim mampu berkontribusi terhadap peradaban manusia terutama Negara Republik Indonesia.
Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Selain itu, Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara (https://lifestyle.okezone.com/read/2017). Problematika budaya malas membaca dan rendahnya daya literasi harus menjadi bahan evaluasi dalam dunia pendidikan di Indonesia tidak terkecuali pula pendidikan umat Islam Indonesia.
 Umat Islam Indonesia dituntut untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa. Umat Islam berkewajiban umtuk menjalankan perintah iqra  yang bersumber dari nilai Islam itu sendiri. Padahal jika kita mempelajari sejarah keemasan peradaban muslim atau The Golden Age of Science  yang mampu menyinari dunia dengan ilmu pengetahuan. Iqra perintah itu akhirnya melahirkan  artefak intelektual yang mengagumkan. Puncak peradaban Islam abad kesepuluh pada masa Harun al-Rassyid dan al-Ma’mun. Pada tahun 800 M, pabrik kertas telah didirikan oleh Harun al-Rasyid di Bagdad. Kemampuan itu diperoleh dari orang-orang Cina (751 M), ketika bangsa Eropa baru mengenal kertas pada abad ke-13  jauh tertinggal 4 abad oleh para cendekiawan muslim. Perpustakaan  juga bertebaran diseluruh sudut kota. Perpustakaan yang paling dikenal pada masa itu adalah Dar al-Hikmah yang dibangun Ma’mun al-Rasyid dikota Bagdad pada 815 M. Al-Yaqubi, salah seorang cendekiawan muslim diabad  ke-9 menghitung bahwa dikota Wadah kota kecil yang terletak dekat dengan kota Bagdad, telah memiliki 100 toko buku. Biasanya toko-toko buku yang memiliki reputasi baik akan dijadikan tempat diskusi dan pertemuan ilmiah.
Perpustakaan besar juga tersebar disejumlah kota, seperti Damskus, Shiraz, Fez, Samarkand, Bukhara, Cordova serta Kairo. Salah satu yang paling membanggakan adalah  perputakaan Khazain al-Qusu di Kairo memiliki koleksi 1,6 juta naskah yang tersimpan dalam 40 ruangan serta dilengkapi ruangan untuk para penyalin, tukang jilid dan pustakawan. Perpustakan juga banyak dimiliki secara pribadi oleh para cendekiawan muslim, pemiliknya sangat perhatian terhadap ketersediaan koleksi buku dirumahnya. Kisah inspiratif dari Sahib Ibnu Abbad yang sekedar untuk memindahkan buku-buku pribadinya dibutuhkan 400 ekor unta. Tidak bisa kita perkirakan tentunya berapa jumlah dari buku yang dimiliki oleh Sahib Ibnu Abbad (Dwi Budiyanto:2009). Iqra merupakan sumber wahyu pertama untuk umat muslim, diharapkan dengan realisasi secara konsisten mampu melahirkan kembali intelektual muslim yang alim lagi ahli dalam bidang pengetahuan sebagaimana para ilmuan muslim di masa keemasan. Begitu pula ketika lahir intelektual muslim di Indonesia tentunya akan mempelopori peradaban yang unggul dan maju dalam membangun negeri ini. Maka dari itu umat Islam harus membangun dunia literasi yang kuat sebagaimana kewajibannya mengamalkan iqra bismirabbikalladzi khalaq  yang dicontohkan para cendekiawan muslim terdahulu.
 Persoalan penting lain yang dihadapi oleh pendidikan Islam selama ini adanya kenyataan yang menunjukkan belum jelasnya kiblat dari pendidikan Islam sehingga spirit Islam dan ilmu pengetahuan masih terdapat dikotomi yang memisahkan diantara keduanya. Pembenahan arah pendidikan yang Islami menjadi jalan utama dari problem umat muslim yang mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan Negeri yang hanya memperoleh mata pelajaran Agama Islam sangat minim yaitu 2-4 jam setiap minggu. Disisi lain pendidikan pesantren Indonesia masih belum mampu menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan pengetahuan umum yang spesifik serta ahli dalam bidangnya, hal ini sungguh realita yang sangat menyedihkan.
 Kedua spirit itu seharusnya adalah  nilai Islam diintegrasikan dengan pengetahuan umum, bukan sebaliknya. Ketimpangan dunia pendidikan Islam masih terjadi didunia lebih khusus di Indonesia. Belum berhasilnya akan integrsi yang pasti antara pendidikan Islam dengan pengetahuan umum berdampak pada sumber daya manusia yang lemah. Diantara dampaknya yaitu masih banyaknya pelaku KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang notabenya beragama Islam. Kejadian semacam ini tentu sangat memalukan di mata kaum muslimin dan merugikan bangsa ini.
Perjuangan integrasi nilai Islam terhadap ilmu pengetahuan perlu terus dilakukan pembaharuan dan evalusi. Sejarah dapat mencatat sosok revolusioner pembaharuan integrasi nilai Islam terhadap kehidupan, dunia barat mengakui bahwa Muhammad SAW sosok revolusioner sejati nomor satu sepanjang sejarah umat manusia yang dikemukakan oleh Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul  100 : A rangking of The Most Influential Person Histori” (1978). Beliau dalam waktu singkat tidak lebih dari 25 tahun mampu mencerdaskan manusia primitif dan tidak beradab keseluruh Jazirah Arab hingga tersebar diseluruh penjuru dunia.
 Integrasi nilai Islam terhadap ilmu pengetahuan membuktikan dengan lahirnya ilmuan muslim yang jenius, seperti Ibnu Sina ahli dalam bidang kedokteran sekaligus hafal al-Qur’an, al- Khawarizi dikenal sebagai Bapak Aritmatika dan Geometri muslim, Ibnu al-Haitham Bapak Optik muslim, Abu Al Zahrawi ahli bedah, al-Farabi, Ibnu Ruys seorang filsuf muslim terkemuka dan masih banyak lagi para ilmuan muslim lainya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Tidak kalah menarik pula para pembaharu pendidikan Islam di Nusantara  seperti KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Muhammad Taher Jalaludin, Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad  dan tentunya masih banyak lagi yang tidak tersebutkan. Pengaruh nilai Islam yang di integrasikan dengan ilmu pengetahuan di Nusantara berdampak pada semangat Patriotisme untuk mengusir penjajah yang zalim dari Negeri ini  melalui jalur pendidikan (Mu”arif:2012).
Salah satu sosok pelopor berpengaruh di Indonesia yang mengintegrasi nilai Islam terhadap ilmu pengetahuan adalah KH. Ahmad Dahlan. Bukti dari integrasi nilai Islam dengan ilmu pengetahuan secara holistik itu bisa dilihat dari perkembangan rintisan pendidikan integrasi Islamnya yang begitu pesat. Jumlah lembaga pendidikan berbasis Islamnya di tahun 2015 mulai dari TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, Pondok Pesanten Modern Mu’alimin/Mualimat, serta Perguruan Tinggi yang semuanya berjumlah lebih dari 10 ribu tepatnya 10.381 buah (Republika.co.id).
Pada dasarnya umat Islam Indonesia harus meneruskan dan mengembangkan pengetahuan berbasis Islam untuk mengarungi arus globalisasi dan berpartisipasi aktif dalam kemajuan bangsa serta peradaban dunia. Sebuah jalan utama yang perlu dilakukan sebagai seorang muslim untuk berkontribusi bagi dunia adalah berilmu dan berkarya. Nilai Islam dan ilmu pengetahuan merupakan garda utama dalam membentuk manusia yang insan kamil, maka harus diorientasikan secara pasti jangan sampai kehilangan nilai Islamnya. Pada hakikatnya manusia adalah eksistensi, tidak hanya ada atau berada didunia ini, tetapi ia secara aktif “mengada”. Manusia tidak semata-mata tunduk pada kodratnya dan secara pasif menerima keadaannya, tetapi ia selalu secara sadar dan aktif menjadikan dirinya sesuatu. Segala proses sangat dipengaruhi oleh kehendak setiap individu manusia (Sarlito W. Sarwono. 2009: 42). Hal ini sejalan dengan petunjuk  untuk manusia dalam al-Quran surah Ar-Ra’du ayat 11 yang arinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri........ (al-ayat).  Maka  dari itu peran manusia berpengaruh terhadap keberlangsungan peradaban manusia. Reaktualisasi nilai akhlak menjadi point utama dalam kehidupan bangsa Timur yang beradab dan tidak kalah penting juga penguasaan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemampuan mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan iman dan amal shalih yang menunjukkan derajat kaum muslimin dan membentuk generasi yang ulul albab (PHIWM:2016). Pernyataan diatas juga setidaknya berlaku bagi setiap masyarakat muslim dalam sumbangsihnya terhadap kehidupan didunia, sebuah hadis shahih menerangkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Bukhari). Allah swt juga berfirman yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al- Qashash (28): 77).  Sudah sepantasnya kita generasi muda mempelopori kemajuan umat manusia dimasa yang akan datang dengan segala usaha dan kreativitas dibidang ilmu pengetahuan manapun dengan keseimbangan IQ (Intellegence Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) yang unggul (Suryadi:2013)
Menggairahkan dan menggembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan pengusaan teknologi, baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam (PHIWM:2016). Tentunya hal yang berkaitan dengan segala bentuk pengetahuan harus bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pepatah mengatakan Agama tanpa ilmu itu lemah dan juga ilmu tanpa Agama itu buta, hal demikian tentu benar adanya.  Bagi umat muslim  pengetahuan yang didasari nilai Islam menjadi solusi dari semua permasalan yang ada. Kebangkitan majelis ilmu ditandai ketika terwujudnya integrasi secara holistik antara nilai Islam dengan ilmu pengetahuan. Sudah pasti keunggulan peradaban umat muslim untuk kemajuan manusia dan bangsa Indonesia berada didepan mata.









DAFTAR PUSTAKA


Amar, Faoza dan Rohwiyono, Anang dan Dwi Fajri, Muhammad. 2012.
Reaktualisasi dan Kontekstalisasi Islam Bekemajuan di Tengah
Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House.
Budiyanto, Dwi. 2010. Propetic Learning  Menjadi Cerdas dengan Jalan
Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media.
Mu’arif. 2012. Modernisasi Pendidikan Islam Sejarah dan Perkembangan
Kweekschool Moehammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Muhammad Iqbal, Abu. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pusataka
Pelajar.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2016. Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah.Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2017. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
Setiawan, Farid dan Sucipto. 2005. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.
Yogyakarta: Semesta Ilmu.
Suyadi. 2014. Teori Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: PT Remaja
Rosyada.

                                                                                                                        

Tidak ada komentar:

    MALAIKAT CANTIK Oleh: Muhammad Ilham Sidiq   Pernah kita dengar tentang sebuah kisah tentang sosok malaikat yang nyata pada kehi...