Pengetahuan
Berbasis Islam Menjadi Solusi Utama Umat Muslim Indonesia dalam Mengarungi Arus
Globalisasi
Oleh:
Muhammad
Ilham Sidiq dan Muhammad Syafrizal
Dunia diera digital ini mengalami berbagai perubahan
baik
di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Indonesia sebagai negara berkembang memerlukan sumber
daya manusia yang unggul. Tragedi nol buku, demikian sastrawan
senior Taufiq Ismail sampaikan dalam sebuah audiensi dengan Komisi X Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tahun 2010. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the
World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity
pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal
minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di
atas Bostwana (61). Selain itu, Programme for International Student
Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk
kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, Indonesia menempati urutan ke-64
dari 65 negara tersebut (https://lifestyle.okezone.com/read/2017). Kenyataan ini sungguh memilukan
bangsa Indonesia tidak terkecuali pula umat Islam yang seharusnya dapat
mempelopori kemajuan bangsa dengan spirit Islamnya. Negara
ini membutuhkan generasi emas yang berkualitas dengan pengusaan IPTEK yang
unggul diberbagai bidang kehidupan. Terutama
generasi muslim harus sadar akan realita negeri ini, dengan spirit Islam
diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk kemajuan
bangsa. Aktualisasi iqra bismirabbikalladzi khalaq harus
benar-benar dilakukan dengan mengitegrasikan nilai Islam dengan ilmu
pengetahuan. Meneladani dan meneruskan perjuangan para cendekiawan muslim
Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan,
Syaikh Muhammad Taher Jalaludin, Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim
Amrullah, dan Haji Abdullah Ahmad merupakan sarana ampuh dalam memotivasi
generasi muslim Indonesia untuk berkarya. Mengolaborasikan nilai Islam harus
dilakukan dengan cara menggali dan merealisasikan spirit ilmu pengetahuan dalam
al-Qur’an dan al-Hadis yang akhir-akhir ini terabaikan.
Pengetahuan Berbasis Islam Menjadi Solusi Utama Umat
Muslim Indonesia dalam Mengarungi Arus Globalisasi
Perkembangan zaman terus berkembang membawa dampak yang sangat signifikan
terhadap pola pikir dan gaya hidup masyarakat di era modern ini. Sebagai
intelektual muslim maka harus bangkit dengan berkarya dalam menghadapi berbagai
situasi dan kondisi diarus globalisasi ini. Islam memberi berbagai stimulus
ilmu pengetahuan terhadap keberlangsungan umat manusia, sehingga para
cendekiawan muslim mampu berkontribusi terhadap peradaban manusia terutama
Negara Republik Indonesia.
Berdasarkan studi "Most
Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central
Connecticut State Univesity pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki
peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di
atas Bostwana (61). Selain itu, Programme for International Student
Assessment (PISA) menyebut budaya literasi masyarakat Indonesia terburuk
kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia, Indonesia menempati urutan ke-64
dari 65 negara (https://lifestyle.okezone.com/read/2017).
Problematika budaya malas membaca dan rendahnya daya literasi harus menjadi
bahan evaluasi dalam dunia pendidikan di Indonesia tidak terkecuali pula
pendidikan umat Islam Indonesia.
Umat Islam Indonesia dituntut untuk
berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa. Umat Islam berkewajiban umtuk
menjalankan perintah iqra yang
bersumber dari nilai Islam itu sendiri. Padahal jika kita mempelajari sejarah
keemasan peradaban muslim atau The Golden Age of Science yang mampu menyinari dunia dengan ilmu
pengetahuan. Iqra perintah itu akhirnya melahirkan artefak intelektual yang mengagumkan. Puncak
peradaban Islam abad kesepuluh pada masa Harun al-Rassyid dan al-Ma’mun. Pada
tahun 800 M, pabrik kertas telah didirikan oleh Harun al-Rasyid di Bagdad.
Kemampuan itu diperoleh dari orang-orang Cina (751 M), ketika bangsa Eropa baru
mengenal kertas pada abad ke-13 jauh
tertinggal 4 abad oleh para cendekiawan muslim. Perpustakaan juga bertebaran diseluruh sudut kota. Perpustakaan
yang paling dikenal pada masa itu adalah Dar al-Hikmah yang dibangun
Ma’mun al-Rasyid dikota Bagdad pada 815 M. Al-Yaqubi, salah seorang cendekiawan
muslim diabad ke-9 menghitung bahwa
dikota Wadah kota kecil yang terletak dekat dengan kota Bagdad, telah memiliki
100 toko buku. Biasanya toko-toko buku yang memiliki reputasi baik akan
dijadikan tempat diskusi dan pertemuan ilmiah.
Perpustakaan
besar juga tersebar disejumlah kota, seperti Damskus, Shiraz, Fez, Samarkand,
Bukhara, Cordova serta Kairo. Salah satu yang paling membanggakan adalah perputakaan Khazain al-Qusu di Kairo
memiliki koleksi 1,6 juta naskah yang tersimpan dalam 40 ruangan serta
dilengkapi ruangan untuk para penyalin, tukang jilid dan pustakawan. Perpustakan
juga banyak dimiliki secara pribadi oleh para cendekiawan muslim, pemiliknya
sangat perhatian terhadap ketersediaan koleksi buku dirumahnya. Kisah
inspiratif dari Sahib Ibnu Abbad yang sekedar untuk memindahkan buku-buku
pribadinya dibutuhkan 400 ekor unta. Tidak bisa kita perkirakan tentunya berapa
jumlah dari buku yang dimiliki oleh Sahib Ibnu Abbad (Dwi Budiyanto:2009). Iqra
merupakan sumber wahyu pertama untuk umat muslim, diharapkan dengan realisasi
secara konsisten mampu melahirkan kembali intelektual muslim yang alim lagi
ahli dalam bidang pengetahuan sebagaimana para ilmuan muslim di masa keemasan.
Begitu pula ketika lahir intelektual muslim di Indonesia tentunya akan
mempelopori peradaban yang unggul dan maju dalam membangun negeri ini. Maka
dari itu umat Islam harus membangun dunia literasi yang kuat sebagaimana
kewajibannya mengamalkan iqra bismirabbikalladzi khalaq yang dicontohkan para cendekiawan muslim
terdahulu.
Persoalan penting lain yang dihadapi oleh
pendidikan Islam selama ini adanya kenyataan yang menunjukkan belum jelasnya
kiblat dari pendidikan Islam sehingga spirit Islam dan ilmu pengetahuan masih
terdapat dikotomi yang memisahkan diantara keduanya. Pembenahan arah pendidikan
yang Islami menjadi jalan utama dari problem umat muslim yang mengenyam
pendidikan di lembaga pendidikan Negeri yang hanya memperoleh mata pelajaran
Agama Islam sangat minim yaitu 2-4 jam setiap minggu. Disisi lain pendidikan
pesantren Indonesia masih belum mampu menghasilkan lulusan yang memiliki penguasaan
pengetahuan umum yang spesifik serta ahli dalam bidangnya, hal ini sungguh
realita yang sangat menyedihkan.
Kedua spirit itu seharusnya adalah nilai Islam diintegrasikan dengan pengetahuan
umum, bukan sebaliknya. Ketimpangan dunia pendidikan Islam masih terjadi didunia
lebih khusus di Indonesia. Belum berhasilnya akan integrsi yang pasti antara
pendidikan Islam dengan pengetahuan umum berdampak pada sumber daya manusia
yang lemah. Diantara dampaknya yaitu masih banyaknya pelaku KKN (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme) yang notabenya beragama Islam. Kejadian semacam ini
tentu sangat memalukan di mata kaum muslimin dan merugikan bangsa ini.
Perjuangan
integrasi nilai Islam terhadap ilmu pengetahuan perlu terus dilakukan
pembaharuan dan evalusi. Sejarah dapat mencatat sosok revolusioner pembaharuan
integrasi nilai Islam terhadap kehidupan, dunia barat mengakui bahwa Muhammad
SAW sosok revolusioner sejati nomor satu sepanjang sejarah umat manusia yang
dikemukakan oleh Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul ”100 : A rangking of The Most Influential
Person Histori” (1978). Beliau dalam waktu singkat tidak lebih dari 25
tahun mampu mencerdaskan manusia primitif dan tidak beradab keseluruh Jazirah Arab
hingga tersebar diseluruh penjuru dunia.
Integrasi nilai Islam terhadap ilmu
pengetahuan membuktikan dengan lahirnya ilmuan muslim yang jenius, seperti Ibnu
Sina ahli dalam bidang kedokteran sekaligus hafal al-Qur’an, al- Khawarizi
dikenal sebagai Bapak Aritmatika dan Geometri muslim, Ibnu al-Haitham Bapak Optik muslim, Abu Al Zahrawi ahli bedah, al-Farabi, Ibnu Ruys seorang
filsuf muslim terkemuka dan masih banyak lagi para ilmuan muslim lainya yang
tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Tidak
kalah menarik pula para pembaharu pendidikan Islam di Nusantara seperti KH. Ahmad Dahlan, Syaikh Muhammad
Taher Jalaludin, Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah, Haji
Abdullah Ahmad dan tentunya masih banyak
lagi yang tidak tersebutkan. Pengaruh nilai Islam yang di integrasikan dengan
ilmu pengetahuan di Nusantara berdampak pada semangat Patriotisme untuk
mengusir penjajah yang zalim dari Negeri ini melalui jalur pendidikan (Mu”arif:2012).
Salah
satu sosok pelopor berpengaruh di Indonesia yang mengintegrasi nilai Islam
terhadap ilmu pengetahuan adalah KH. Ahmad Dahlan. Bukti dari integrasi nilai
Islam dengan ilmu pengetahuan secara holistik itu bisa dilihat dari
perkembangan rintisan pendidikan integrasi Islamnya yang begitu pesat. Jumlah
lembaga pendidikan berbasis Islamnya di tahun 2015 mulai dari TK, SD/MI,
SMP/MTs, SMA/SMK, Pondok Pesanten Modern Mu’alimin/Mualimat, serta Perguruan
Tinggi yang semuanya berjumlah lebih dari 10 ribu tepatnya 10.381 buah
(Republika.co.id).
Pada
dasarnya umat Islam Indonesia harus meneruskan dan mengembangkan pengetahuan
berbasis Islam untuk mengarungi arus globalisasi dan berpartisipasi aktif dalam
kemajuan bangsa serta peradaban dunia. Sebuah jalan utama yang perlu dilakukan
sebagai seorang muslim untuk berkontribusi bagi dunia adalah berilmu dan
berkarya. Nilai Islam dan ilmu pengetahuan merupakan garda utama dalam
membentuk manusia yang insan kamil, maka harus diorientasikan secara
pasti jangan sampai kehilangan nilai Islamnya. Pada hakikatnya
manusia adalah eksistensi, tidak hanya ada atau berada didunia ini, tetapi ia
secara aktif “mengada”. Manusia tidak semata-mata tunduk pada kodratnya dan
secara pasif menerima keadaannya, tetapi ia selalu secara sadar dan aktif
menjadikan dirinya sesuatu. Segala proses sangat dipengaruhi oleh kehendak
setiap individu manusia (Sarlito W. Sarwono. 2009: 42). Hal ini sejalan dengan
petunjuk untuk manusia dalam al-Quran
surah Ar-Ra’du ayat 11 yang arinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
nasib suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri........ (al-ayat). Maka
dari itu peran manusia berpengaruh terhadap keberlangsungan peradaban
manusia. Reaktualisasi
nilai akhlak menjadi point utama dalam kehidupan bangsa Timur yang beradab dan
tidak kalah penting juga penguasaan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Kemampuan mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dengan iman dan amal shalih yang menunjukkan derajat kaum
muslimin dan membentuk generasi yang ulul albab (PHIWM:2016). Pernyataan
diatas juga setidaknya berlaku bagi setiap masyarakat muslim dalam sumbangsihnya
terhadap kehidupan didunia, sebuah hadis shahih menerangkan bahwa “Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Bukhari). Allah
swt juga berfirman yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah
dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan
bagianmu (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan”. (QS. Al- Qashash (28): 77). Sudah sepantasnya kita generasi muda
mempelopori kemajuan umat manusia dimasa yang akan datang dengan segala usaha
dan kreativitas dibidang ilmu pengetahuan manapun dengan keseimbangan IQ (Intellegence
Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient)
yang unggul (Suryadi:2013)
Menggairahkan dan menggembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan
pengusaan teknologi, baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di
lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun
peradaban Islam (PHIWM:2016). Tentunya hal yang berkaitan dengan segala bentuk
pengetahuan harus bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pepatah mengatakan Agama
tanpa ilmu itu lemah dan juga ilmu tanpa Agama itu buta, hal demikian tentu
benar adanya. Bagi umat muslim pengetahuan yang didasari nilai Islam menjadi
solusi dari semua permasalan yang ada. Kebangkitan majelis ilmu ditandai ketika
terwujudnya integrasi secara holistik antara nilai Islam dengan ilmu pengetahuan.
Sudah pasti keunggulan peradaban umat muslim untuk kemajuan manusia dan bangsa
Indonesia berada didepan mata.
DAFTAR PUSTAKA
Amar, Faoza dan Rohwiyono,
Anang dan Dwi Fajri, Muhammad. 2012.
Reaktualisasi dan Kontekstalisasi Islam Bekemajuan di
Tengah
Peradaban Global. Jakarta:
Al-Wasat Publishing House.
Budiyanto, Dwi. 2010. Propetic Learning Menjadi Cerdas dengan Jalan
Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media.
Mu’arif. 2012. Modernisasi Pendidikan
Islam Sejarah dan Perkembangan
Kweekschool Moehammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Muhammad Iqbal, Abu. 2015. Pemikiran Pendidikan
Islam. Yogyakarta: Pusataka
Pelajar.
Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. 2016. Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah.Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2017. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
Setiawan, Farid dan
Sucipto. 2005. Revitalisasi Pendidikan
Muhammadiyah.
Yogyakarta: Semesta Ilmu.
Suyadi. 2014. Teori Pembelajaran Anak
Usia Dini. Bandung: PT Remaja
Rosyada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar