KEMUHAMADIYAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR……………………………………………….II
DAFTAR ISI………………..……………………………………….III
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………….1
B. Rumusan Masalah…………………………..…………………………1
C. Tujuan Penulisan……………………………………………..……..………1
BAB II PEMBAHASAN
Uraian Materi
A. Kehidupan dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi………………………………………………………………….2
B. Ulasan Singkat dan Landasan Dalil PHIWM..……………...……………………………………………….…..3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………….11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring berjalanya waktu dunia terus mengalami kemajuan baik secara ruh maupun fisik yang berpengaruh kepada perubahan disegala aspek kehidupan manusia. Umat manusia khususnya umat Islam semakin membutuhkan Ilmu Pengetahuan Teknologi untuk memudahkan berbagai kegiatan dalam beribadah, terutama dalam konteks muamalah duniawiyah.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengaruh IPTEK terhadap kehidupan manusia terutama umat Islam.
2. Kenapa IPTEK menjadi tolak ukur penentu suksesnya dakwah islamiayah diera globalisasi ini.
3. Bagaimana proses pemanfaat IPTEK secara syar’i sehingga dapat bermanfaat bagi umat islam.
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk menumbuhkan semangat dalam memanfaatkan dan mengembangakan IPTEK demi kesejahteraan umat manusia.
2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi mahasiswa dalam menggunakan IPTEK secara tepat.
3. Menganalisa dan mengkritisi dinamika dampak positif dan negative dari perkembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi bagi umat Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
Uraian Materi
A. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
1. Setiap warga Muhammadiyah wajib menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai sarana kehidupan yang penting untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat[1].
2. Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki sifat-sifat ilmuwan, yaitu; kritis[2], terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya[3], serta senantiasa menggunakan daya nalar[4].
3. Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian tidak terpisahkan dengan iman dan amal shalih yang menunjukkan derajat kaum muslimin[5], dan membentuk pribadi ulil albab[6].
4. Setiap warga Muhammadiyah dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberikan peringatan, memanfaatkan untuk kemashlahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad dan dakwah[7].
5. Menggairahkan dan mengembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam. Dalam kegiatan ini termasuk menyemarakkan tradisi di seluruh lingkungan warga Muhammadiyah.
B. Landasan Dalil
1. Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat (Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122 )
Berkaitan kebahagiaan hidup didunia maupun kebahagiaan hidup diakhirat tentunya semua insan manusia sangat menginginkan kedua hal tersebut. Namun, perlu disadari manusia harus benar-benar kembali kepada dua rujukan dasar al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga kita perlu sebuah narasi besar untuk perubahan. Islam yang berkemajuan itu sendiri merupakan sebuah konsep yang sangat besar, dan itulah yang akan melakukan perubahan didalam umat islam[8].
Hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat tanpa meremehkan satu sama lain. Selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjalani hidup agar bermanfaat bagi orang lain sehingga terwujud masyarakat islam yang haqiqi. Mari kita pahami baik-baik landasan dalil dibawah ini.
a. An-Nahl (16):43
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
b. Al-Qashash (28):77
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ فِى وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ ٱلْأَرْضِ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِين
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
c. Al-Mujadillah (58):11
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
d. At-Taubah (9):122
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
2. Sikap Kritis (Q.s Al-Isra (17):36)
Kita semua tidak bisa menutup mata, jikalau masih adannya kesenjangan antara banyaknya jumlah umat Islam di Indonesia dengan perilaku yang tidak mulia diseluruh level masyarakat[9]. Maka sebagai umat Islam yang baik kita dituntut untuk selalu peka terhadap segala permasalahan yang sedang terjadi sekitar lingkungan kita. Besikap bijak jangan sampai acuh tak acuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut dibawah ini ada landasan ayat al-Qu’an berkaitan dengan sikap kritis.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.
3. Menerima Segala Kebenaran dengan (Q.S Az-Zumar (39):18 )
Dalam mengahadapi dunia kehidupan yang sarat akan masalah dan tantangan yang kompleks umat Islam terutama warga Muhammdiyah tidak cukup hanya mengandalkan usaha-usaha pragmatis dengan berjalan mengikuti hukum alamiah belaka tanpa berpijak pada prisip-prinsip gerakannya yang bersifat ideologis [10]. Maka dari itu setiap individu harus membuka diri untuk meraih ilmu sebanyak mungkin yang paling baik dan benar. Kita harus bisa membuat hubungan dengan kalangan manapun selagi tidak menyekutukan Allah, semua kerjasama dalam membangun peradaban dan untuk memudahkan manusia itu tidak dilarang oleh agama. Jangan bersifat kolot dan eksklusif terhadap ilmu dunia sehingga umat Islam tidak tertinggal oleh orang-orang non-muslim. Berikut landasan dalilnya.
ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.
4. Senantiasa Menggunakan Daya Nalar (Q.s Yunus(10):101)
Peradaban global yang tengah bangkit sekarang ini juga ada kerusakan yang bersifat akumulatif, kerusakan dunia yang bersifat global dewasa ini yang menciptakan banyak sekali permasalahan dunia dan nyaris tidak bisa untuk diatasi seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan, ketidakadilan, sampai pada tsunami budaya atau kejatuhan ekologi lingkungan hidup[11].
Berkaitan dengan nalar maka manusia dituntut untuk memperhatikan berbagai fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar. Bagaimana manusia dituntut untuk mempelajari berbagai hikmah baik diberbagai bidang kehidupan. Senantiasa melakukan perbaikan diri dan realistis dengan keadaan zaman yang semakin berkembang, tidak pasif hanya pada sebatas budaya dan juga ilmu agama yang mendoktrin, tetapi mengimplementasikan segala pengetahuan kita untuk ibadah kepada Allah semata.
قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.
5. Allah Akan Mengangkat Derajat Kaum Muslimin yang Beriman dan Beramal Shalih.( Al-Mujadillah (58):11)
Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut akidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah duniawiyah, dan sebagainya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Ayat dibawah ini menjelaskan untuk bersemangat menuntut ilmu, berlapang dada, menyiapkan kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu, bersemangat belajar, menyiapkan segala sumberdaya untuk meningkatkan keilmuan, dan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan[12]. Jadi menuntut itu sangat ditekankan kepada setiap muslim demi memudahkan kehidupanya dan Allah juga akan mengangkat derajat orang-orang beriman sekaligus berilmu.
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
6. Pribadi Ulil Albab (Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20)
Muhammadiyah memandang bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan umat manusia yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama, melahirkan keunggulan lahiriyah dan ruhaniyah. Adapun dakwah dan tajdid bagi Muhammadiyah merupakan jalan perubahan untuk mewujudkan Islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman. Dalam perspektif Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang berkemajuan , yang kehadiranya membawa rahmat bagi semesta alam[13].
Menjadi pribadi yang selalu berpikir kreatif dalam menghadapi segala permasalahan hidup yang kompleks sesuai dengan tuntutan zaman, maka kita harus menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa serta mengusai berbagai bidang ilmu pengetahuan teknolo, berikut beberapa ayat dan dalilnya.
a. Al-Baqoroh (2):197
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَاب
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
b. Ali Imron (3): 7 dan 190-191
Ali Imron ayat 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَاب
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Ali Imron ayat 190-191
إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبَابِ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
c. Al-Maidah (5):100
قُل لا يَستَوِي الخَبيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَو أَعجَبَكَ كَثرَةُ الخَبيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يا أُولِي الأَلبابِ لَعَلَّكُم تُفلِحونَ
Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”.
d. Ar-Ra’d (13):19-20)
أَفَمَنْ يَّعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمٰىۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيثَاقَ
Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. Yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,
7. Internalisasi Ilmu Pengetahuan (Q.s Al-Baqarah (2):151; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Seperti yang terjadi dewasa ini, kami akan kutip beberapa realita potret pendidikan yang terjadi di Muhammadiyah. Sebagai contoh pelajaran al-Islam dan Kemuhammadiyahan, pelajaran AIK yang dianggap benteng moral dan ideologi anak didik dilembaga pendidikan Muhammadiyah masih diajarkan sebatas kognitif dari pada afektif, sehingga menjadikan peserta didik hanya cerdas menghafal, secara realita dilapangan banyak anak didik Muhammadiyah justru menunjukan perilaku yang jauh dari harapan.Cara berbusana, bertutur kata, maupun semangat beribadah mereka tidaklah mencerminkan akhlaq mulia, sebagaimana tujuan AIK diajarkan[14].
Berkaitan dengan internalisasi ilmu pengetahuan maka sudah sepantasnya kita mengamalkan apa yang kiata dapat tidak hanya sebatas kita dengar terus kita sia-siakan begitu saja, harus ada action secara nyata.
a. Al-Baqarah (2):151-152
كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
b. At-Taubah (9):122
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
c. Amalan yang Tidak Terputus (HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh”.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat (Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122 )
2. Sikap Kritis (Q.s Al-Isra (17):36)
3. Menerima Segala Kebenaran dengan (Q.S Az-Zumar (39):18 )
4. Senantiasa Menggunakan Daya Nalar (Q.s Yunus(10):101)
5. Allah Akan Mengangkat Derajat Kaum Muslimin yang Beriman dan Beramal Shalih.( Al-Mujadillah (58):11)
6. Pribadi Ulil Albab (Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20)
7. Internalisasi Ilmu Pengetahuan (Q.s Al-Baqarah (2):151; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Dari ketujuh point diatas dapat kisimpulkan bahwasanya kita seabagai warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya harus menjadi generasi terbaik yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih kebahagaian yang hakiki baik dunia maupun akhirat, dengan prinsip bekerja atau bermuamalah duniawiyah semata-mata untuk mencari ridho-Nya dan juga bekal negeri akhirat. Memanfaatkan segala ilmu pengetahuan untuk kepentingan ibadah, meraih akhirat tanpa meninggalkan sedikitpun kewajiban manusia sebagai khalifah dimuka bumi.
DAFTAR PUSTAKA
Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan
di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House.
Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD
bekerjasama dengan Suara Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2016. Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.
Yogyakarta: Semesta Ilmu
[1] Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122
[2] Q.s Al-Isra (17):36
[3] Q.S Az-Zumar (39):18
[5] Q.s Al-Mujadillah (58):11
[6] Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20
[7] Q.s Al-Baqarah (2):151-152; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi
[8] Dikutip dari pemikiran Din Syamsudin…. Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House hal 5
[9] Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.Yogyakarta: Semesta Ilmu hal 59
[10] Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD hal 3
[11] Dikutip dari pemikiran Din Syamsudin…. Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House hal 8
[12] http://harian.analisadaily.com/kota/news/allah-akan-mengangkat-derajat-orang-berilmu/439211/2017/10/25 disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, Prof Dr Abdullah Jamil MA
[13] Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD hal 40
[14] Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.Yogyakarta: Semesta Ilmu hal 34-35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar