Mencerdaskan
Kehidupan Bangsa Tugas Kita Semua
Tema:
Meneguhkan Trilogi Ikatan Dalam Memajukan Karakter Humanis
Oleh:
Muhammad Nur Arifin dan Muhammad Ilham Sidiq
Banyak orang mengatakan Indonesia adalah tanah surga
dengan ribuan pulau yang membentang. Dunia menyebut Indonesia negara kepulauan yang gemah
ripah loh jinawi. Tidak bisa kita pungkiri
sumber daya alam negeri ini sangatlah
berlimpah ruah.
Dari Sabang hingga
Merauke terbentang luas rerimbun hutan,
lahan pertanian, gugusan
pegunungan,
serta kekayaan lautnya tiada tandingan. Akan
tetapi dengan berlimpahnya sumber daya alam tanpa adanya kualitas sumber daya
manusia, maka
semua kekayaan negara Indonesia ini tiada artinya. Itulah kenapa negeri surga ini masih disebut negara
berkembang.
Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah
penduduk di Indonesia sangatlah
banyak, terutama usia produktifnya. Andai saja sumber daya manusia yang melimpah itu
berkualitas tentu sumber
daya alamnya pun akan terolah dengan
baik. Pertanyaannya adalah bagaimana meningkatkan
kualitas penduduk Indonesia agar tercapai keseimbangan antara sumber daya alam
dan sumber daya manusia
?
Pendidikan adalah jawabannya. Pendidikan merupakan
kebutuhan pokok bagi manusia karena sejatinya manusia dilahirkan dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatu apapun. Sebagaimana dalam Alquran surat an-Nahl ayat
78 Allah berfirman “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun”.
Maksud ayat ini adalah, Allah mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada manusia setelah mengeluarkannya dari perut sang Ibu. Ayat ini mengajarkan
kepada kita bahwa untuk memproleh
predikat manusia yang berkualitas diperlukan pula pendidikan berkualitas sebagai upaya kita
untuk melawan kebodohan
dalam diri manusia.
Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasal
dari kata “didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran “an” mengandung
arti bahwa itu adalah perbuatan ( hal, cara dan sebagainya ).[1] Sedangkan pendidikan didalam Undang Undang
Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal
(1) Ayat (1) menyebutkan bahwa, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Dengan mencermati
pengertian diatas kita dapat
memahami bahwa pendidikan sangat berpengaruh dalam mengembangkan potensi
diri untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Dikarenakan faktor pendidikan
merupakan
faktor yang teramat penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Maka setiap
bangsa yang sukses dan berperadaban
tinggi selalu
dilatarbelakangi oleh pendidikan yang unggul.[2]
Mencerdaskan
Kehidupan Bangsa Tugas Kita Semua
Berbicara tentang pendidikan maka kita sedang membahas tentang arti sebuah peradaban.
Peradaban yang sudah di cita-citakan
oleh bangsa Indonesia adalah
menjadikan segenap bangsa ini maju dan cerdas. Sesungguhnya semua itu sudah tertuang jauh-jauh hari di dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 yaitu “mencerdaskan kehidupan
bangsa”. Dan diterangkan lebih rinci akan hal ini bahwa “setiap warga
negara berhak mendapatkan pendidikan”.[3] Berangkat dari itu semua, maka muncul pertanyaan menjadi tugas siapakah mencerdaskan
kehidupan bangsa ?
Tugas
itu pada hakikatnya adalah tugas kita semua. Bukan hanya tugas
Presiden,
Menteri,
MPR ataupun DPR . Akan tetapi, sekali lagi ini menjadi tugas kita semua sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang wajib berpartisipasi aktif dalam mewujudkan cita-cita agung bangsa ini. Apalagi kita mengenyam status sebagai mahasiswa maka sudah seharusya
sadar dan ikut serta mewujudkan cita-cita negara
Indonesia, salah satunya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun
1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di Perguruan Tinggi tertentu. Sebagai
seorang mahasiswa yang berkesempatan
belajar di Perguruan
Tinggi tentu akan sangat diharapkan dapat menjadi pelopor suatu perubahan, baik di lingkungan masyarakat maupun
lingkungan yang lebih besar lagi seperti negara. Artinya mahasiswa harus berperan aktif, baik untuk dirinya
sendiri, masyarakat luas maupun
bangsanya,
terkhusus dalam ranah pendidikan.
Misalnya ketika
kita menghadapi berbagai masalah pendidikan di
Indonesia. Seperti yang dilansir
dari CCN Indonesia Kamis,
07/06/2018 mengutip dari bank dunia menyatakan bahwa kualitas pendidikan
Indonesia masih rendah, indikator pendidikan yang masih rendah ini tercermin
dari jumlah kasus buta huruf yang begitu besar. Begitu banyak penyebabnya
mengapa kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah, salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya
pendidikan di negara Indonesia. Hal
ini sangat menjadi
penghambat bagi anak
bangsa untuk melanjutkan pendidikan. Sebagai contoh nyata yang dialami oleh Tri
Maulidiyah seorang anak dari Brebes harus putus sekolah karena alasan biaya ( Sumber :
detikNews 20 Oktober 2017 ).
Selaras dengan apa
yang dialami oleh Tri Maulidiyah melalui Liputan6 pada 24 Desember 2016
menyatakan bahwa “ Sebanyak 35,90 persen anak di perkotaan dan perdesaan
berumur antara 7 hingga 17 tahun tidak sekolah akibat tidak memiliki biaya,
belum lagi mereka yang putus sekolah karena himpitan ekonomi keluarga”. Dan
masih banyak lagi permasalahan yang
menjadi penyebab pendidikan di Indonesia masih
tergolong sangat rendah.
Betapa mirisnya hati kita sebagai mahasiswa
ketika melihat kondisi pendidikan bangsa Indonesia seperti ini. Padahal sudah kita
ketahui bahwa pendidikan adalah hal paling fundamental yang harus
diperkuat demi terwujudnya warga negara yang
bermoral, berpengetahuan luas serta mampu bersaing dengan
bangsa lainnya. Akan tetapi dengan
melihat
permasalahan diatas seakan-akan
membuat keyakinan kita terhadap negara ini untuk maju sangatlah minim. Sehingga bisa
dipastikan jika kita sebagai mahasiswa tidak ikut andil dalam memajukan pendidikan
di Indonesia, bukanlah tidak mungkin Indonesia menjadi negara terbelakang dalam
jangka waktu panjang.
Mahasiswa dengan segala upayanya
merupakan ujung tombak bagi pembangunan masa depan
bangsa. Hal ini dikarenakan mahasiswa
mempunyai relasi kontribusi yang mendalam dan strategis, semua itu tercermin dari ide-ide dan aksi nyata dalam pembangunan nasional. Sebagai contoh berdirinya Budi Utomo pada
tahun 1908 sebenarnya telah menjadi tonggak awal yang cukup kuat bagi perkembangan
pergerakan nasional, hal itu
dikarenakan banyak di pelopori oleh kaum muda terdidik dalam artian
sama seperti mahasiswa.[4]
Ketika mahasiswa dihadapkan pada permasalahan pendidikan
di Indonesia, sudah sepantasnya setiap mahasiswa cermat menganalisis dan
mencari alternatif solusi permasalahan, serta berperan aktif dalam mewujudkan perubahan
itu. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri salah satunya menempatkan
diri untuk berprestasi lagi peduli sosial.
Bercermin dari sejarah, secara
sadar ataupun
tidak mahasiswa memiliki peranan yang sangat besar dalam mewujudkan perubahan
di masa yang akan datang. Hal
itulah yang harus
membuat kita selaku mahasiswa
terus berupaya untuk memperoleh ilmu
pengetahuan sebanyak mungkin. Dengan berilmu tentu kita akan mampu menjadi agent perubahan di
masa mendatang. Karena
penulis meyakini “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Bukhari).
Tentu untuk ikut serta dalam proses memajukan pendidikan kita sebagai
mahasiswa haruslah unggul. Tidak hanya menjadi mahasiswa monoton yang duduk di bangku perkuliahn dan pulang tanpa mau mengembangkan diri maupun turut serta dalam kegiatan sosial. Jika mahasiswa
kuliah-pulang-kos saja maka tidak akan cukup untuk menunjang perubahan yang
diamanahkan kepada mahasiswa itu sendiri. Ada
amanah yang melekat pada diri mahasiswa, amanah
itu sering kita kenal dengan istilah agent of change atau agen
perubahan. Dimana mahasiswa
sejatinya sangat diharapkan
untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik atas segala permasalahan yang ada, terutama masalah pendidikan.
Oleh sebab itu, sangat diperlukannya mahasiswa yang berpengetahuan
luas menjadi pelopor kemajuan bangsa. Hadirnya organisasi atau komunitas
merupakan fasilitas yang ada di setiap Perguruan Tinggi sebagai penunjang
kemampuan mahasiswa dalam berprestasi baik di lingkungangan akademik maupun non
akademik. Berorganisasi dalam dunia perkuliahan
merupakan suatu kebutuhan pokok dalam
mengembangkan potensi yang dimilikinya. Hal ini sangatlah penting sebagai pengembangan diri dalam menghadapi masa depan. Jika mahasiswa hanya sibuk kuliah, tidak mau berorganiasi serta hanya mementingkan diri sendiri demi perolehan
nilai akademik saja,
tentu hal itu sangatlah egois dan tidak peka terhadap perubahan sosial.
Untuk menumbuhkan jiwa sosial diperlukan pembelajaran secara
berkesinambungan. Berbaur dengan masyarakat dapat memudahkan kita untuk
menganalisis dan mengetahui permasalahan sosial serta mampu menghadirkan solusi
ke arah perubahan. Tentu ilmu untuk menumbuhkan jiwa sosial itu sangatlah minim
jika hanya didapatkan di bangku perkuliahan saja, maka dengan organisasilah ilmu
sosial itu dapat diperoleh.
Akan sangat
disayangkan jika mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammdiyah hanya pasif
berkuliah tanpa berorganisasi. Adapun salah satu organisasi yang dapat menumbuh
kembangkan jiwa sosial adalah IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). IMM merupakan sebuah organisai pengkaderan yang bergerak
dibidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai
tujuan Muhammadiyah.[5] Maka dari itu IMM berusaha mengintegrasi secara holistik
nilai intelektualitas dibalut dengan moralitas tinggi serta nilai sosial
kemanusiaan.
Berkaitan dengan
penyataaan diatas sudah barang tentu organisasi IMM sangat memperhatikan dinamika kemasyarakatan
atau keadaan sosial. Sehingga IMM bisa disebut juga sebagai wadah menempa ilmu
sosial. Dinamakan ilmu sosial karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau
kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajari.[6]
Hal ini dapat dibuktikan dari seajarahnya yaitu para founding
fathers yang sebagian besar para aktivis Muhammadiyah, mereka berusaha mengimajinasikan
IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam yang dibangun dan digerakkan oleh tiga
kompetensi dasar, yaitu religiusitas, intelektualistas dan humanitas.[7] Dari sini
kita dapat menyimpulkan bahwa organisasi IMM ini tidak hanya menjadikan kita sebagai
mahasiswa yang berintelektual maupun seorang aktivis kemanusiaan, akan tetapi lebih dari itu semua
religiusitas kita akan terus berkembang pula. Dengan adanya tiga kompetisi
dasar akan menjadi akar aksentuasi identitas gerakan IMM dalam kancah gerakan
sosial maupun gerakan peduli masyarakat. Kenapa harus masyarakat? Dikarenakan
masyarakat merupakan objek utama gerakan perubahan itu..
Untuk menumbuhkan jiwa kemanusiaan terkhusus
masalah pendidikan maka mahasiswa harus peduli terhadap lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, IMM menjadi tempat strategis untuk
berproses menjadi mahasiswa yang berjiwa sosial lagi peduli masyarakat maupun
bangsanya. Gambaran sederhananya IMM bisa disebut juga sebagai ladang dakwah
amar ma’ruh nahi mungkar.
Dengan tersedianya ruang positif IMM sebagai
jalan dakwah, maka mahasiswa akan ikut aktif
dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa. Salah satu pengabdian utama kepada
masyarakat adalah dengan mendorong minat pendidikan masyarakat. Bentuk dorongan
utama kepada masyarakat yang terpenting adalah menghidupkan kembali semangat
membaca, menulis maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat lemah.
Ketika buta tulis, buta aksara latin maupun al-Qur’an dapat terentaskan,
dan pemberdayaan ekonomi dapat terlaksana, sudah barang tentu semangat meraih
pendidikan pun dapat terwujud. Sehingga sudah seharusnya menjadi prioritas
utama Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah untuk menghidupkan kembali atmosfer
pendidikan di lingkungan masyarakat. Seperti dengan mengajarkan nilai agama,
IPTEK, maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat di tempat-tempat yang tertinggal
dan kurang tersentuh pendidikan.
Penulis sangat yakin dan optimis jika
mahasiswa memiliki jiwa kepedulian yang
tinggi terhadap masyarakat terkhusus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
Maka kedepannya bangsa ini bisa menjadi bangsa yang berkualitas dengan sumber
daya manusia yang berkualitas pula. Tanpa diragukan lagi dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit perubahan
kearah peradaban unggul dan berdaya saing global akan menjadi kenyataan.
Dengan demikian kita akan mampu menjadi bangsa yang maju lagi unggul serta
diimbangi nilai moralitas yang luhur.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Makhrus dan Aminuddin, Anwar. 2014. Genealogi Kaum Merah.
Yogyakarta: Rangkak
Education.
Amirullah. 2016. IMM untuk Kemanusiaan dari Nalar ke Aksi. Yogyakarta: CV.
Mediatama Indonesia.
Asrofi, Yusron. 2005. K.H. Ahamad Dahlan
Pemikiran & Kepemimpinan.
Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah.
Dahlan, K.H. Ahmad. 1923. Kesatuan Hidup
Manusia. Yogyakarta: Majelis
Taman siswa.
Fathoni, Farid. 1990. Kelahiran yang Dipersoalkan. Surabaya: PT. Bina Ilmu
Mulkhan, Abdul Munir. 1990. Warisan Intelektual K.H. Ahamad Dahlan
dan Amal Muhammadiyah. Yogyakarta: Percetakan
Persatuan.
Halim Sani, M. Abdul. 2017. Manisfeto Gerakan Intelektual Profetik.
Surakarta: Muhammadiyah
University Press.
Leirissa. R. Z. Dkk. 1989. Sejarah
Pemikiran Tentang Sunpah Pemuda. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Mohammad Ali, Sodi A. Kuncoro, Sutrisno. 2016.
Pendidikan Berkemajuan:
Refleksi
Praktis Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan. Surakarta: Jurnal
Pembangunan Pendidikan, Vol. 4, No. 1.
Setiawan, Farid dan Sucipto. 2005. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.
Yogyakarta: Semesta Ilmu.
Widodo,
Sembodo Ardi. 2011. Konstruksi Keilmuan Muhammadiayah dan NU.
Yogyakarta: Jurnal A-Ulum,
Vol. 11, No. 2
[1] Poerwardaminta, WJS, kamus
umum bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1976 ), hal. 250
[2]
Fandi Ahmad, Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan
Tentang Pendidikan dan Implementasinya di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta Tahun
2014/2015, ( D.I Yogyakarta, Jurnal
Studi Islam, 2015 ) Vol. 16, No. 2.
[3]
Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945
[4] R.Z. Leirissa dkk. Sejarah Pemikiran Tentang Sumpah Pemuda.
Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. hal.1-26
[5]
Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar, Genealogi
Kaum Merah, (Yogykarta: Rangkak Education,2014),hlm 99
[6] M.
Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, ( Surakarta:
Muhammadiyah Univeraity Press,2017),hlm 187
[7]
Bidang keilmuan dewan pimpinan pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tri
Kopetisi Dasar : peneguhan jatidiri kader ikatan mahasiswa muhammadiyah, (
Jakarta: Bidang Keilmuan DPP IMM, 2007 ), hlm 128
Tidak ada komentar:
Posting Komentar