Kamis, 31 Oktober 2019

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Tugas Kita Semua


Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Tugas Kita Semua
Tema:
Meneguhkan Trilogi Ikatan Dalam Memajukan Karakter Humanis
Oleh:
Muhammad Nur Arifin dan Muhammad Ilham Sidiq



 

Banyak orang mengatakan Indonesia adalah tanah surga dengan ribuan pulau yang membentang. Dunia menyebut Indonesia negara kepulauan yang gemah ripah loh jinawi. Tidak bisa kita pungkiri sumber daya alam negeri ini sangatlah berlimpah ruah. Dari Sabang hingga Merauke terbentang luas rerimbun hutan, lahan pertanian,  gugusan pegunungan, serta kekayaan lautnya tiada tandingan. Akan tetapi dengan berlimpahnya sumber daya alam tanpa adanya kualitas sumber daya manusia, maka semua kekayaan negara Indonesia ini tiada artinya. Itulah kenapa negeri surga ini masih disebut negara berkembang.
Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah penduduk di Indonesia sangatlah banyak, terutama usia produktifnya. Andai saja sumber daya manusia yang melimpah itu berkualitas tentu sumber daya alamnya pun akan terolah dengan baik. Pertanyaannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas penduduk Indonesia agar tercapai keseimbangan antara sumber daya alam dan sumber daya manusia ?
Pendidikan adalah jawabannya. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia karena sejatinya manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Sebagaimana dalam Alquran surat an-Nahl ayat 78 Allah berfirman “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun”. Maksud ayat ini adalah, Allah mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada manusia setelah mengeluarkannya dari perut sang Ibu. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk memproleh predikat manusia yang berkualitas diperlukan pula pendidikan berkualitas sebagai upaya kita untuk melawan kebodohan dalam diri manusia. 
Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran “an” mengandung arti bahwa itu adalah perbuatan ( hal, cara dan sebagainya ).[1] Sedangkan  pendidikan didalam Undang Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal (1) Ayat (1) menyebutkan bahwa, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Dengan mencermati pengertian diatas kita dapat memahami  bahwa pendidikan sangat berpengaruh dalam mengembangkan potensi diri untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Dikarenakan faktor pendidikan merupakan faktor yang teramat penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Maka setiap bangsa yang sukses dan berperadaban tinggi selalu dilatarbelakangi oleh pendidikan yang unggul.[2]
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Tugas Kita Semua
Berbicara tentang pendidikan maka kita sedang membahas tentang arti sebuah peradaban. Peradaban yang sudah di cita-citakan oleh bangsa Indonesia adalah menjadikan segenap bangsa ini maju dan cerdas. Sesungguhnya semua itu sudah tertuang jauh-jauh hari di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dan diterangkan lebih rinci akan hal ini bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”.[3] Berangkat dari itu semua, maka muncul pertanyaan menjadi tugas siapakah mencerdaskan kehidupan bangsa ?
Tugas itu pada hakikatnya adalah tugas kita semua. Bukan hanya tugas Presiden, Menteri, MPR ataupun DPR . Akan tetapi, sekali lagi ini menjadi tugas kita semua sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang wajib berpartisipasi aktif dalam mewujudkan cita-cita agung bangsa ini. Apalagi kita mengenyam status sebagai mahasiswa maka sudah seharusya sadar dan ikut serta mewujudkan cita-cita negara Indonesia, salah satunya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di Perguruan Tinggi tertentu. Sebagai seorang mahasiswa yang berkesempatan belajar di Perguruan Tinggi tentu akan sangat diharapkan dapat menjadi pelopor suatu perubahan, baik di lingkungan masyarakat  maupun lingkungan yang lebih besar lagi seperti negara. Artinya mahasiswa harus berperan aktif, baik untuk dirinya sendiri, masyarakat luas maupun bangsanya, terkhusus dalam ranah pendidikan.
Misalnya ketika kita menghadapi berbagai masalah pendidikan di Indonesia. Seperti yang dilansir dari CCN Indonesia Kamis, 07/06/2018 mengutip dari bank dunia menyatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih rendah, indikator pendidikan yang masih rendah ini tercermin dari jumlah kasus buta huruf yang begitu besar. Begitu banyak penyebabnya mengapa kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah,  salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya pendidikan di negara Indonesia.  Hal ini sangat menjadi penghambat bagi anak bangsa untuk melanjutkan pendidikan. Sebagai contoh nyata yang dialami oleh Tri Maulidiyah seorang anak dari Brebes harus putus sekolah karena alasan biaya ( Sumber : detikNews 20 Oktober 2017 ).
 Selaras dengan apa yang dialami oleh Tri Maulidiyah melalui Liputan6 pada 24 Desember 2016 menyatakan bahwa “ Sebanyak 35,90 persen anak di perkotaan dan perdesaan berumur antara 7 hingga 17 tahun tidak sekolah akibat tidak memiliki biaya, belum lagi mereka yang putus sekolah karena himpitan ekonomi keluarga”. Dan masih banyak lagi permasalahan yang menjadi penyebab pendidikan di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Betapa mirisnya hati kita sebagai mahasiswa ketika melihat kondisi pendidikan bangsa Indonesia seperti ini.  Padahal sudah kita ketahui bahwa pendidikan adalah hal paling fundamental yang harus diperkuat demi terwujudnya warga negara yang bermoral, berpengetahuan  luas serta mampu bersaing dengan bangsa lainnya. Akan tetapi dengan melihat permasalahan diatas seakan-akan membuat keyakinan kita terhadap negara ini untuk maju sangatlah minim.  Sehingga bisa dipastikan jika kita sebagai mahasiswa tidak ikut andil dalam memajukan pendidikan di Indonesia, bukanlah tidak mungkin Indonesia menjadi negara terbelakang dalam jangka waktu panjang.
Mahasiswa dengan segala upayanya merupakan ujung tombak bagi  pembangunan masa depan bangsa. Hal ini dikarenakan mahasiswa mempunyai relasi kontribusi yang mendalam dan strategis, semua itu tercermin dari ide-ide dan aksi nyata dalam pembangunan nasional. Sebagai contoh berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 sebenarnya telah menjadi tonggak awal yang cukup kuat bagi perkembangan pergerakan nasional, hal itu dikarenakan banyak di pelopori oleh kaum muda terdidik dalam artian sama seperti mahasiswa.[4]
Ketika mahasiswa dihadapkan pada permasalahan pendidikan di Indonesia, sudah sepantasnya setiap mahasiswa cermat menganalisis dan mencari alternatif solusi permasalahan, serta berperan aktif dalam mewujudkan perubahan itu. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri salah satunya menempatkan diri untuk berprestasi lagi peduli sosial.
Bercermin dari sejarah, secara sadar ataupun tidak mahasiswa memiliki peranan yang sangat besar dalam mewujudkan perubahan di masa yang akan datang. Hal itulah yang harus membuat kita selaku mahasiswa terus berupaya untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Dengan berilmu tentu kita akan mampu menjadi agent perubahan di masa mendatang.  Karena penulis meyakini “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Bukhari).
Tentu untuk ikut serta dalam proses memajukan pendidikan kita sebagai mahasiswa haruslah unggul. Tidak hanya menjadi mahasiswa monoton yang duduk di bangku perkuliahn dan pulang tanpa mau mengembangkan diri maupun turut serta dalam kegiatan sosial. Jika mahasiswa kuliah-pulang-kos saja maka tidak akan cukup untuk menunjang perubahan yang diamanahkan kepada mahasiswa itu sendiri. Ada amanah yang melekat pada diri mahasiswa, amanah itu sering kita kenal dengan istilah agent of change atau agen perubahan. Dimana mahasiswa sejatinya sangat diharapkan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik atas segala permasalahan yang ada, terutama masalah pendidikan.  
Oleh sebab itu, sangat diperlukannya mahasiswa yang berpengetahuan luas menjadi pelopor kemajuan bangsa. Hadirnya organisasi atau komunitas merupakan fasilitas yang ada di setiap Perguruan Tinggi sebagai penunjang kemampuan mahasiswa dalam berprestasi baik di lingkungangan akademik maupun non akademik. Berorganisasi dalam dunia perkuliahan merupakan suatu kebutuhan pokok dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Hal ini sangatlah penting sebagai pengembangan diri dalam menghadapi masa depan. Jika mahasiswa hanya sibuk kuliah, tidak mau berorganiasi serta hanya mementingkan diri sendiri demi perolehan nilai akademik saja, tentu hal itu sangatlah egois dan tidak peka terhadap perubahan sosial.
Untuk menumbuhkan jiwa sosial diperlukan pembelajaran secara berkesinambungan. Berbaur dengan masyarakat dapat memudahkan kita untuk menganalisis dan mengetahui permasalahan sosial serta mampu menghadirkan solusi ke arah perubahan. Tentu ilmu untuk menumbuhkan jiwa sosial itu sangatlah minim jika hanya didapatkan di bangku perkuliahan saja, maka dengan organisasilah ilmu sosial itu dapat diperoleh.
 Akan sangat disayangkan jika mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammdiyah hanya pasif berkuliah tanpa berorganisasi. Adapun salah satu organisasi yang dapat menumbuh kembangkan jiwa sosial adalah IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).             IMM merupakan  sebuah organisai pengkaderan yang bergerak dibidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.[5] Maka dari itu IMM berusaha mengintegrasi secara holistik nilai intelektualitas dibalut dengan moralitas tinggi serta nilai sosial kemanusiaan.
 Berkaitan dengan penyataaan diatas sudah barang tentu organisasi IMM  sangat memperhatikan dinamika kemasyarakatan atau keadaan sosial. Sehingga IMM bisa disebut juga sebagai wadah menempa ilmu sosial. Dinamakan ilmu sosial karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajari.[6] 
Hal ini dapat dibuktikan dari seajarahnya yaitu para founding fathers yang sebagian besar para aktivis Muhammadiyah, mereka berusaha mengimajinasikan IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam yang dibangun dan digerakkan oleh tiga kompetensi dasar, yaitu religiusitas, intelektualistas dan humanitas.[7] Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa organisasi IMM ini tidak hanya menjadikan kita sebagai mahasiswa yang berintelektual maupun seorang aktivis  kemanusiaan, akan tetapi lebih dari itu semua religiusitas kita akan terus berkembang pula. Dengan adanya tiga kompetisi dasar akan menjadi akar aksentuasi identitas gerakan IMM dalam kancah gerakan sosial maupun gerakan peduli masyarakat. Kenapa harus masyarakat? Dikarenakan masyarakat merupakan objek utama gerakan  perubahan itu.. 
Untuk menumbuhkan jiwa kemanusiaan terkhusus masalah pendidikan maka mahasiswa harus peduli terhadap lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, IMM menjadi tempat strategis untuk berproses menjadi mahasiswa yang berjiwa sosial lagi peduli masyarakat maupun bangsanya. Gambaran sederhananya IMM bisa disebut juga sebagai ladang dakwah amar ma’ruh nahi mungkar.
Dengan tersedianya ruang positif IMM sebagai jalan dakwah, maka mahasiswa akan ikut aktif  dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.  Salah satu pengabdian utama kepada masyarakat adalah dengan mendorong minat pendidikan masyarakat. Bentuk dorongan utama kepada masyarakat yang terpenting adalah menghidupkan kembali semangat membaca, menulis maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat lemah.
Ketika buta tulis, buta aksara latin maupun al-Qur’an dapat terentaskan, dan pemberdayaan ekonomi dapat terlaksana, sudah barang tentu semangat meraih pendidikan pun dapat terwujud. Sehingga sudah seharusnya menjadi prioritas utama Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah untuk menghidupkan kembali atmosfer pendidikan di lingkungan masyarakat. Seperti dengan mengajarkan nilai agama, IPTEK, maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat di tempat-tempat yang tertinggal dan kurang tersentuh pendidikan.  
Penulis sangat  yakin dan optimis jika mahasiswa memiliki jiwa kepedulian  yang tinggi terhadap masyarakat terkhusus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Maka kedepannya bangsa ini bisa menjadi bangsa yang berkualitas dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Tanpa diragukan lagi dengan  berjalannya waktu sedikit demi sedikit perubahan kearah peradaban unggul dan berdaya saing global akan menjadi kenyataan.
Dengan demikian kita akan mampu menjadi bangsa yang maju lagi unggul serta diimbangi nilai moralitas yang luhur.
                                                                           











DAFTAR PUSTAKA
                                                  
Ahmadi, Makhrus dan Aminuddin, Anwar. 2014. Genealogi Kaum Merah.
Yogyakarta: Rangkak Education.
Amirullah. 2016. IMM untuk Kemanusiaan dari Nalar ke Aksi. Yogyakarta: CV.
Mediatama Indonesia.
Asrofi, Yusron. 2005. K.H. Ahamad Dahlan Pemikiran & Kepemimpinan.  
Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah.
Dahlan, K.H. Ahmad. 1923. Kesatuan Hidup Manusia.  Yogyakarta: Majelis
Taman siswa.
Fathoni, Farid. 1990. Kelahiran yang Dipersoalkan. Surabaya: PT. Bina Ilmu
Mulkhan, Abdul Munir. 1990. Warisan Intelektual K.H. Ahamad Dahlan
dan Amal Muhammadiyah. Yogyakarta: Percetakan Persatuan.
Halim Sani, M. Abdul. 2017. Manisfeto Gerakan Intelektual Profetik.
Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Leirissa. R. Z. Dkk. 1989. Sejarah Pemikiran Tentang Sunpah Pemuda.  Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Mohammad Ali, Sodi A. Kuncoro, Sutrisno. 2016. Pendidikan Berkemajuan:
Refleksi Praktis Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan. Surakarta: Jurnal
Pembangunan Pendidikan, Vol. 4, No. 1.
Setiawan, Farid dan Sucipto. 2005. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.
Yogyakarta: Semesta Ilmu.
 Widodo, Sembodo Ardi. 2011. Konstruksi Keilmuan Muhammadiayah dan NU.
Yogyakarta: Jurnal A-Ulum, Vol. 11, No. 2


[1] Poerwardaminta, WJS, kamus umum bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 1976 ), hal. 250
[2] Fandi Ahmad, Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan Tentang Pendidikan dan Implementasinya di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta Tahun 2014/2015, ( D.I Yogyakarta, Jurnal  Studi Islam, 2015 ) Vol. 16, No. 2.
[3] Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945
[4]  R.Z. Leirissa dkk. Sejarah Pemikiran Tentang Sumpah Pemuda. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. hal.1-26
[5] Makhrus Ahmadi dan Aminuddin Anwar, Genealogi Kaum Merah, (Yogykarta: Rangkak Education,2014),hlm 99
[6] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, ( Surakarta: Muhammadiyah Univeraity Press,2017),hlm 187
[7] Bidang keilmuan dewan pimpinan pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tri Kopetisi Dasar : peneguhan jatidiri kader ikatan mahasiswa muhammadiyah, ( Jakarta: Bidang Keilmuan DPP IMM, 2007 ), hlm 128

Tidak ada komentar:

    MALAIKAT CANTIK Oleh: Muhammad Ilham Sidiq   Pernah kita dengar tentang sebuah kisah tentang sosok malaikat yang nyata pada kehi...