Jumat, 01 November 2019

Kurikulum Pendidikan Islam






KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Lailan Arqam, M.Pd.

 



Disusun oleh :
1.      Muhammad Davit    (1700031043)
2.      Muh. Ilham Sidiq     (1700031045)
3.      Nurfajriyah               (1700031048)
4.      Pramalia Ulfy R.H   (1700031046)
5.      Rizki Ayu Lestari     (1700031047)




KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia nikmat, berupa rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah  tentang Kurikulum Pendidikan Islam dengan tepat waktu. Serta sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam, beserta para keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang setia dengan sunahnya.
Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit menguraikan materi seputar konsep “ Kurikulum”. Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan mengenai hakikat kurikulum, dasar, prinsip, dan fungsi kurikulum, orientassi kurikulum, model konsep kurikulum, sistem penjenjangan kurikulum, pola organisassi kurikulum, serta segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfat, terutama bagi kami selaku penyusun makalah dan pada umumnya bagi para mahasiswa  sebagai sarana dalam belajar. Untuk kesempurnaan makalah ini, kiranya kritik dan saran yang konstruktif dari Bapak Dosen maupun pembaca sekalian. Sekian dan terima kasih.



Yogyakarta, November 2018

Penyusun Kelompok 8


DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR..........................................................................II
DAFTAR ISI.......................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Hakikat Kurikulum Pendidikan..............................................................3
B.     Dasar, Prinsip, dan Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam......................4
C.     Orientasi Kurikulum Pendidikan Islam................................................11
D.    Model-model Konsep Kurikulum Pendidikan Islam...........................13
E.     Isi Kurikulum Pendidikan Islam..........................................................14
F.      Sistem Penjenjangan Kurikulum Pendidikan Islam.............................17
G.    Pola Organisasi Kurikulum Pendidikan Islam.....................................18
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan…………………………………………...………………21

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

Segala aktivitas  ilmiah memerlukan suatu rencana dan pengorganisasian yang dilaksanakan secara sistematis, terstruktur, dan terukur. Demikian pula dalam sebuah pendidikan, diperlukan adanya sitem  terencana yang dapat mengantarkan proses pendidikan sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses, pelaksanaan sampai penilaian dalam sebuah pendidikan dikenal dengan sebutan “kurikulum pendidikan”.
Sesuai dengan pembahasan kali ini yaitu mengenai “kurikulum pendidikan Islam” penulis akan mencoba menggali beberapa sumber terkait kurikulum pendidikan Islam itu sendiri. Telah kita ketahui bahwasanya al-Qur’an dan hadis bukanlah buku sains, buku fisafat, ataupun buku yang menjelaskan tentang seputar pengetahuan yang spesifik dalam bidang tertentu. Walaupun al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu baik di dunia ataupun di akhirat tetapi al-Qur’an hanya sebagai pemantik yang menjelaskan pokok-pokok fundamental tentang kehidupan manusia. Hal demikian dimaksudkan agar manusia mengetahui tujuan pokok hakikat kehidupan sebagai hamba Allah SWT dan bisa terinspirasi oleh rahasia dan hikmah al-Qur’an untuk mengembangkan segala bidang keilmuan, karena pada hakikatnya semua ilmu itu berasal dari Sang Maha Pencipta.
Berdasarkan kedua landasan dasar al-Qur’an dan al-Hadis, para cendekiawan muslim menyusun wawasan mereka tentang kurikulum. Namun, agaknya ini para pakar pendidikan di kalangan umat Islam belum menulis teori kurikulum secara rinci dan sistematik sebagaimana yang dilakukan para cendekiawan Barat. Akan tetapi, ini bukan berarti para cendekiawan Muslim belum memiliki wawasaan sama sekali mengenai kurikulum pendidikan. Dikatan demikian karena jelas tatkala para cendekiawan Muslim menyusun progam pendidikan dalam pembelajaran di sekolah yang di bangun oleh mereka, kita dapat menemukan susunan mata pelajaran serta kegiatan yang menggambarkan wawasan mereka tentang kurikulum.
Maka dari itu komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang di cita-citakan, bahkan tujuan pendidikan tidak kan tercapai tanpa adanya kurikulum pendidikan. Kurikulum mereupakan salah satu pokok dari komponen pendidikan yang merupakan sebuah sistem dari komponen-komponen tertentu. Komponen kurikuluum tersebut paling tidak mencangkup tujuan, struktur progam, strategi pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian, penilaian hasil belajar, bimbingan-penyuluhan, administrasi, dan supervisi pendidikan. Namun, komponen-komponen tersebut belum memadaai sebagai komponen pendidikan. Untuk itu komponen pendidikan setidaknya mencangkup empat klaster sebagai berikut:
1.      Klaster komponen dasar.
2.      Klaster komponen pelaksana.
3.      Klaster komponen pelaksana dan pendukung kurikulum.
4.      Klaster komponen usaha-usaha pendidikan.

Pada bagian pembahasan InsyaaAllah, penulis akan membahas komponen kurikulum dasar dan pelaksana, sedangkan komponen kurikulum lainya akan dibahas pada bagian  klaster lainya.












BAB II
PEMBAHASAN

A.   Hakikat Kurikulum Pendidikan

Kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagi bidang kehidupan.[1] Sedangkan kurikulum pendidikan adalah ( manhaj/curriculum) adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantar lembaga pendidikan yang diinginkan.[2]
Bahkan alice miel mengatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasanasekolah, keinginan, keinginan, keyakinan, pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani disekolah(termasuk didalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk kedalam kurikulum.   
Dalam perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum tidak hanya terbatas pada program pendidikan namun juga dapat diartikan menurut fungsinya.
1.      Kurikulum sebagai program studi. Pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari pleh peserta didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya.
2.      Kurikulum sebagi konten. Pengertiannya adalah data atau informassi yang tertera dalam buku-buku kelass tampa dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan timbulnya belajar.
3.      Kurikulum sebagai kegiatan berencana. Pengertiannya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan di ajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
4.      Kurikulum sebagi hasil belajar. Pengertiannya adalah seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tampa menpesifikasi cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil itu, atau seperangkat hasil belajr yang direncanakan dan diinginkan.
5.      Kurikulum sebagai reproduksi kultular. Pengertiannya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
6.      Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Pengertiannya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.
7.      Kurikulum sebagai produksi. Pengertiannya adalah seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.

B.    Dasar, Prinsip, dan Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam

1.      Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Dasar kurikulum merupakan kekuatan-kekuatan yang utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum. Dasar kurikulum dinamakan juga sumber kurikulum atau determinan kurikulum (penentu). [3]
Herman H. Hone[4] memberikan dasar kurikulum dengan tiga macam, yaitu:
1.      Dasar psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan hasil belajar dan kebutuhan peserta didik. (the ability and needs of chilldren).
2.      Dasar sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntunan saah dari masyarakat (the legimitate demands of society).
3.      Dasar filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadan alam semesta tempat hidup kita (the kind of universe in which we live).
Dalam perspektif Islam, pendapat Herman diatas belum bisa menjamin suatu kurikulum dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, karena belum memasukan nilai dasar religius yang wajib diresapi oleh peserta didik. Oleh karena itu, al-Syaibani[5] merumuskan empat dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu: 1) dasar religi, 2) dasar falsafah, 3) dasar psikologis, 4) dasar sosiologis, dan 5) ditambah dasar organisatoris. Berikut ini penjelasannya:
a.      Dasar Religi
Dasar yang dituangkan berdasarkan nilai-nilai Islam ini merujuk pada Al-Qur’an maupun As-Sunnah, karena kedua kitab ini bersifat universal bagi umat muslim dan menjadi landasan pokok hidupnya.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda :
انى قد تركت فيكم ما ان اعمتم به فلن تضلو ابدا كتابالله وسنة نبيه
“Sesunggunya aku telah meninggalkan untuk kamu, yang jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kau tidak tersesat untuk selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Hakim)
Disamping kedua sumber utama itu ada sumber lagi yang masih bisa dijadikan pegangan umat Islam yaitu dalil ijtihadi,  berupa hassil pemikiran para ulama yang tidak berlawanan dengan prinsip Al-Qu’an dan As-Sunnah. Dalil ijtihadi dapat berupa ‘ijma (konsensus para ulama), qiyas (analogi), istihan, istishab, mashalih al-mursalah, madzab shahabi, sadz al-dzari’ah, syar’u man qablana, dan u’ruf.

b.      Dasar Falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosofis sehingga susunan kurikulum mengandung sebuah kebenaran sebagai pandangan hidup yang diyakini. Dasar filosofis memuat sistem nilai, baik yang berkaitan dengan makna nilai makna hidup dalam kehidupan, masalah kehidupan, norma-norma yang muncul dari individu, sekelompok masyarakat, maupun suatu bangsa yang dilatarbelakangi pengaruh agama, kebudayaan, adat istiadat, dan konsep individu tentang pendidikan.
Dasar filosofis rumusan kurikulum pendidikan Islam dirumuskan pada tiga dimensi yaitu ontologis, epistomologis, dan aksiologis.
1.      Dimensi Ontologi
Dimensi ini mengarahkan kurikulum agar benyak memberi peserta didik berhubungan lansung dangan objek-objek, serta berkaitan dengan pelajaran yang memanipulasi  benda-benda dan materi kerja. Dimensi diambil dari proses pembelajaran Nabi Adam as. Yang diajarkan Allah SWT tentang nama-nam benda, sebagaimana Firman Allah SWT:
و علم ءادم الاسماء كلها ثم عر ضهم على الملا ئكة فقال انبؤا نى با سماء هؤلاء ان كنتم صا دقين (البقرة:٣١(
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda), seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada Malaikat, lalu (Allah) berfirman:‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu termasuk golongan yang benar.”
 Implikasi dimensi ontologi dalam kurikulum pendidikan ialah ahwa pengalaman yang ditanamkan pada peserta didik tidak hanya sebatas pada alam fisik dan isinya yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari, melainkan menjadi suat yang tidak terbatas dalam realitas fisik. Maksud dari alam tak terbatas adalah alam rohaniyah atau spiritual yang mengantarkan mausia pada keabadian.
2.      Dimensi Epistemologi
Perwujudan kurikulum yang valid harus berdasarkan pendekatan metode ilmiah yang sifatnya integral dalam berpikir menyeluruh, reflektif, dan kritis. Metode ini dilakukan melalui lima tahapan yaitu keasadaran akan adanya masalah, perumusan masalah, identifikasi semua masalah dan cara pemecahannya proyeksi disemua kosekuensi yang akan timbul serta mengkaji konsekuensi tersebut dalam pengalaman. Jadi konstruksi itu bersifat terbuka yang kesalahannya dapat diverifikasi bahkan ditolak serta bersifat temporer dan tentatif.
3.      Dimensi Aksiologi
Dimensi ini mengarahkan pembentukan kurikulum yang dirancang agar dapat memberikan kepuasan pada diri peserta didik supaya memiliki nilai-nilai yang ideal, mampu hidup dengan baik, sekaligus dapat menghindari nilai-nilai yang tidak diinginkan.
Berbagai macam aliran filsafat pada dasarnya dapat dimanfaatkan sebagai khasanah pemikiran di bidang kurikulum pendidikan Islam. Konsep dan teori dari berbagai macam aliran filsafat tidak bisa begitu saja diterima atau ditolak, namun diseleksi terlebih dahulundan kemudian dimodifikasi sesuai dengan khasanah pendidikan Islam. Hasil modifikasi antara agama dan filsafat dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.      Pendidikan Islam dan Filsafat Idealisme
2.      Pendidikan Islam dan Filsafat Realisme-Natural
3.      Pendidikan Islam dan Fiulsafat Humanime Intelektual
4.      Pendidikan Islam dan Realisme Klasik
5.      Pendidikan Islam dan Naturalisme Romantik
6.      Pendidikan Islam dan Filsafat Pragmatisme

c.       Dasar Psikologis
Dasar ini memperhitungan kondisi psikologis peserta didik yang berkaitan perkembangan jasmaniah, kematangan, minat bakat, intelektual bahasa, emosi, sosial, kebutuhan hidup, keinginan individu dan kecakapan.
Dasar psikologi terbagi menjadi dua macam yaitu: Pertama, psikologi pelajar, hakikat peserta didik itu dapat didik, dibelajarkan, dan diberi sejumlah materi pengetahuan. Oleh karenanya hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kurikulum memberi peluang belajar bagi peserta didik tersebut,  dan bagaiman proses belajar berlangsung, serta dalam keadaan bagaimana peserta didik dapat memperoleh hasi yang maksimal. Kedua, psikologi anak, karena setiap peserta didik mempunyai kepentingan, yankni untuk memperoleh cara belajar yangefektif denagan berusaha mengembangkn bakatnya.
Perbedaan usia mempengarui cara pandang dan berpikir manusia. Oleh karenya anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa, biarlah anak-anak bermain karena itu bagian dari dunianya.
d.      Dasar Sosiologis 
Dasar sosiologis memberiakan pengaruh bahwa kurikulum pendidikan memegan peranan penting terhadap penyampaian dan pengembangan budaya, proses sosialisasi individu, dan merekonstruksi masyarakat. Meskipun sering mengalami kesulitan dalam bentuk kebudayaan yang bagaimana yang sekiranya perlu disampaikan pada proses sosialisasi dan bentuk masyarakat yang seperti apa yang perlu direkonstruksi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hal tersebut tidak mudah menkaji tuntutan masyarakat secara menyeluruh karena keterbatasan manusia.  Dan terutama adanya pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan masyarakat sesalu dalam proses perkembangan, karen memang tuntutan dari masyarakat selalu berubah-ubah, tidsk selalu sama denagn realita.


e.       Dasar Organisatoris
Dasar ini mengenai bentuk penyajian bahan pelajaran yakni pengatuaran kuriulum. Dasar ini berpijak pada teori  psikologi asosiasi yang menganggap keseluruhan adalah jumlah-jumlah bagian-bagiannya. Dengan demikian, menjadikan kurikulum sebagai mata pelajaran yang terpisah-pisah. Kemudian disusul oleh teori Gesalt[6] yang menganggap keseluruhan mempengaruhi organisasi kurikulum yang tersusun secara rumit tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Kedua teori psikologi tersebut tidak lepas dari kelebihan maupun kekurangan masing-masing.
2.      Prinsip Pendidikan Islam
Adapun prinsip-prinsip pendidikan Islam sebagai berikut:
a.       Prinsip yang berorientasi pada tujuan sebagai hamba dan khalifah Allah SWT.
b.      Prinsip relevansi  kurikulum dalam kehidupan realitas.
c.       Prinsip efisiensi dan efektivitas dalam penerapan kurikulum.
d.      Prinsip fleksibelitas progam kurikulum.
e.       Prinsip integritas antara iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan.
f.        Prinsip kontinuita, bagaimana kurikulum dapat istiqomah dalam pelaksanaannya.
g.      Prinsip objetivitas sesuai dengan tujuan kurikulum pendidikan Islam.
h.      Prinsip demokratis menghendaki untuk pelaksanaaan kurikulum dilakukan secara demokrasi.
i.        Prinsip analisis kegiatan kurikulum.
j.        Prinsip individualisasi yaitu kuri kulum sudah selaknya memperhatikan perbedaan pembawaan lingkungan yang meliputi seluruh aspek peserta didik.
k.      Prinsip pendidikan semuur hidup menjadikan manusia terus belajar untuk mengetahui ilmu hingga akhir hayatnya.
Seperangkat kurikulum sedapatnya harus memberikan peranan positif yang bersifat dinamis terhadap kebutuhan setiap peserta didik dan masyarakat pada umumnya. Hal demikian dikarenakan kebutuhan manusia selalu berubah dan berkembang, sehingga tuntunan kurikulum bersifat futuristik.
Menurut al-Syaibani[7], prinsip utama dalam kurikulum pendidikan Islam ialah (1) berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan nilai-nilainya; (2) prinsip menyeluruh (universal), baik dalam tujuan maupun kandungannya; (3) prinsip keseimbangan antara tujuan dan kandungan kurikulum; (4) prinsip interaksi dan keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan,  dan kebutuhan peserta didik serta alam sekitar fisik dan sosial di mana para siswa hidup; (5) prinsip pemeliharaan dalam perbedaan-perbedaan individu peserta didik mengenai bakat, minat, kemampuan-kemampuan, kebutuhan-kebutuhan, dan masalah-masalahnya; (6) prinsip perkembangan dan perubahan seirin dengan tuntunan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai agama; dan (7) prinsip integritas dalam mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum dengan kebutuhan anak didik, masyarakat, dan tuntunan zaman tempat anak didik berada.
3.      Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam
Fungsi kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut[8]: (1) alat untuk mencapai tujuan dan harapan manusia sesuai dengan cita-cita; (2) pedoman dan progam yang harus dilakukan oleh subyek dan objek pendidikan; (3) sebagai fungsi untuk berkesinambungan berupa persiapan menempuh jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan; (4) sebagai standar penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan.

C.   Orientasi Kurikulum Pendidikan Islam
Pada dasarnya, orientasi kurikulum mengacu pada lima point penting yaitu: orientasi pada nilai-nilai, orientasi pada kebutuhan sosial, orientasi pada tenaga kerja, orientasi pada peserta didik, dan orientasi pada masa depan berupa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari kelima jenis orientasi tersebut, penulis mencoba memodifikasi pada orientasi peandidikan Islam dengan ulasan sebagai berikut:
1.      Orientasi pelestarian Nilai-Nilai
Dalam pandangan Islam unsur nilai dibagi menjadi dua macam, yaitu nilai yang turun dari Allah SWT atau dikenal nilai Ilahiyah, dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradabab manusia itu sendiri dinamakan nilai Insaniyah. Kedua nilai tersebut selanjutnya tumbuh membentuk norma-norma kehidupan yang dianut dan melembaga pada masyarakat yang memegang nilai tersebut.
Dalam perspektif Islam manusia merupakan hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Manusia mempunyai kewajiban memahami, menghayati, dan mengamalkan, serta melestariakan nilai yang diyakininya berupa hal utama nilai akidah dan akhlak Islam itu sendiri. Upaya ini juga harus ditopang dengan komitmen terhadap hubungan vertikal/ hablu minallah dan hubungan horizontal/ hablu minnans atau habblu minan al-alam. Tugas kurikulum selanjutanya kurikulum pendidikan mampu untuk memberikan sebuah situasi dan progam tertentu agar dapat tercapainnya dua tujuan di atas.
2.      Orientasi pada Kebutuhan Sosial
Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang ditandai dengan melahirkannya sebuah peradaban dan kebudayaan  yang berpengaruh pada peubahan perkembangan yang pesat di berbagai aspek kehidupan, walaupun tidak mencapai titik puncak kulminasi. Orientasi kurikulum terhadap kebutuhan sosial berupa konstribusi positif dalam perkembangan sosial dan kebutuhannya, sehingga mampu menghsilkan output yang berkualitas mampu menjawab tantangan zaman dengan segala permasalahannya dan memenuhi kebutuhan hidup manusia. Maka dari itu kurikulum modern selalu berupaya mengatasi masalah kebutuhan hidup masyarakat.
3.      Orientasi pada Tenaga Kerja
Sebagai makhluk biologis manusia tentunya memiliki unsur mekanisme jasmani berupa organ fisik yang membutuhkan berbagai kebutuhan lahiriyah seperti sandang, pangan, dan papan, serta berbagai kebutuhan manusiawi lainnya.
Sebagai konsekuensinya, kurikulum harus mampu memenuhi kebutuhan manusia yang kompleks. Kurikulum mampu melahirkan alumni atau output peserta didik yang memiliki kemampuan dan ketrampilan yang profesional, produktif, kreatif, dan penuh inovatif. Lembaga pendidikan diharapkan juga mampu mendayagunakan seluruh sumber seluruh potensi peserta didik sehingga dapat melahirkan generasi yang produktif dalam mendayagunakan segala sumber daya baik dari alam ataupun dari berbagai situasi kondisi terntentu.
Hal ini selaras dengan Sabda Rasulullah SAW tentang pengusaan ilmu bagi kemaslahatan manusia:
من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الاخرة فعليه باالعلم من ارادهما فعليه بالعلم
“Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan didunia maka hendaklah mengusai ilmu, dan barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat maka hendaklah mengusai ilmu, serta barangsiapa mengingingkan keduanya hendalah mengusai ilmu.” (al-Hadist)
4.      Orientasi pada Peserta Didik
Orientasi pada pesrta didik merupakan kompas arah dalam sebuah kurikulum untuk memenuhi kebutuhan pesrta didik yang disesuaikan dengan kemampuan, bakat, dan minatnya. Untuk merealisasikan orientasi pada pada kebutuhan peserta didik memerlukan tiga domain pembelajran yaitu, domain afektif, kognitif, dan psikomotorik.
5.      Orientasi pada Masa Depan Berupa Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perjalanan zaman ditandai dengan kemajuan berbagai bidang kehidupan umat manusia, oleh karenanya kemajuan zaman menghasilkan berbagai produk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpengaruh terhadap kelangsungan umat manusia itu sendiri. Hampir setiap lini kehidupan manusia tidak lepas dari keterlibatan IPTEK didalamnya.
Dalam perspektif kurikulum pendidikan Islam diperluakan mengintegrasikan kemajuan IPTEK yang diraih manusia dengan nilai Iman Taqwa. Hal ini sejalan sabda Nabiyullah SAW:
من ازداد علما ولم يزدد فى الدنيا هدى لم يزدد من الله الا بعدا
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya, tetapi didunia tidak bertambah petunjuknya, maka (sesungguhnya) ia semakin jauh kepada Allah”. (HR. Dailami)  

D.   Model-model Konsep Kurikulum Pendidikan Islam

1.      Kurikulum sebagai Model Subjek Akademis, mengutamakan pengetahuan, sehingga pendidikan diarahkan lebih bersifat intelektual. Model subjek akademis (rasionalisasi-akademis) mengalami perkembangan menjadi tiga struktur disiplin yaitu:
a.       Aliran yang melanjutkan struktur disiplin. Menonjolkan proses penelitian ilmiah, baik masalah sosial, nilai-nilai, maupun kebijakan tokoh-tokoh pemerintah.
b.      Pelajar terpadu. Menggunakan beberapa disiplin ilmu terpadu yang diperoleh dari konsep-konsep pokok, proses ilmiah, gejala alam, dan masalah yang dihadapi sehingga pendekatannya adalah interdispliner.
c.       Pendidikan fundamental. Mementingkan isi dan materi, disamping cara atau proses berfikir.
2.      Kurikulum sebagai Model Humanistik (Aktualisasi Diri), mengutamakan pengembangan potensi peserta didik. Model ini menciptakan unsure kreativitas, spontanitas, kemandirian, kebebasan, aktivitas, minat, dan motivasi intrinsik.
3.      Kurikulum sebagai Model Rekonstruksi Sosial, mengutamakan proses belajar yang dapat mengubah tingkah laku individu, sehingga nantinya diharapkan peserta didik mampu menjadi “agent of change” dalam masyarakat. Model ini bersumber dari aliran pendidikan interaksional. Desain dalam kurikulum ini adalah sebagai berikut:
a.       Menghadapkan peserta didik pada tantangn, ancaman, hambatan, dan gangguan yang dihadapi manusia.
b.      Memberi kontribusi pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah sosial yang harus dijawab dengan aktivis kurikulum.
c.       Pola-pola organisasi membuat kegiatan pleno yang membahastema utama yang dijadikan bahan dalam diskusi kelompok.
4.      Kurikulum sebagai Model Teknologi, mengutamakan penyusunan program pengajaran dan rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam konteks kurikulum ini mempunyiai dua aspek yaitu hardware seperti proyektor, TV, LCD, radio, dan software berupa teknik dan penyusunan kurikulum, baik secara mikro maupun makro.
5.      Kurikulum sebagai Model Proses Kogitif, mengutamakan pengembangan kemampuan mental, yakni berpikir dan berkeyakinan bahwa kemampuan dapat ditransfer atau diterapkan pada bidang-bidang lain. Model ini berpijak pada psikologi kognitif  yakni kekuatan pikiran.

E.    Isi Kurikulum Pendidikan Islam
Fimc dan Crunkitton menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum pendidikan yaitu; (1) waktu dan biaya; (2) tekanan internal dan eksternal; (3) persyaratan isi kurikulum pusat maupun daerah; (4) tingkat dari isi kurikulum yang disajikan. Selain beberapa persyaratan diatas isi kurukulum haruslah memenuhi kriteria dalam pencapaiannya, seperti signifiakasi yang berhubungan dengan kebutuhan sosial, dan melihat aspek pragmatisnya  dan disesuaikan dengan minat yang mengikuti perkembangan manusia, serta melihat struktur disiplin ilmu yang disepakati.[9]
Untuk menyesuaikan dengan kualifikasi isi kurikulum pendidikan Islamperlu dirumuskan sebagai berikut: (1) materi tidak menyalahi fitrah manusia; (2) relefansi dengan tujuan pendidikan Islam; (4) sesuai tingkat usia dan perkembangan peserta didik; (5) melakukan praktik langsung untuk peserta didik dengan memberikan kunci materi yang empiris; (6) materi dirancang agar memiliki relevansi problematika kekinian; (7) adanya metode yang mampu memperhatiakan keberagaman peserta didik; (8) memperhatikan aspek sosial seperti dakwah Islam; (9) materi yang disusun mempunyai pengaruh positif terhadap jiwa pesrta didik; (10) adanya ilmu-ilmu  alat untuk mempelajari disiplin ilmu yang lain.
Dalam konferensi Islam di Islamabad II menghasilkan keputusan bahwa kurikulum terbagi menjadi dua macam, yaitu parenial (naqliyah) dan  acquired (aqliyah). Parenial  diterima melalui wahyu  yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yaitu; ilmu al-Qur’an yang meliputi qira’at, hifdz, tafsir, sunnah, sirah, tauhid, fikih, ushul fiqh, serta bahasa al-Qur’an.  Sedangkan aquired diperoleh melalui hasil pemikiran, imajinasi, dan pengalaman indra manusia seperti; seni imajinatif, seni intelek, ilmu murni, dan ilmu praktik.
Isi kurikulum yang seperti diatas ternyata masih mencerminkan dikotomi keilmuan antara ilmu dari Allah dan ilmu produk manusia.Padahal dalam epistemologi Islam semua ilmu sejatinya berasal deri Allah SWT semata, sedangkan manusia hanya menginterprestasikannya. Untuk itu penulis menawarkan kurikulum pendidikan kedalam tiga orientasi sesuai Firman Allah SWT berikut ini:
سنريهم ءاياتنا فى الافاق وفى أنفسهم حتى يتبين لهم انه الحق اولم يكف بربك انه على كل شىء شهيد (فصلت: ٥٣)
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri (anfus), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksukan segala sesuatu?”
Ayat tersebut sejatinya mengandung tidga isi kurikulum dalam pendidikan Islam, yaitu:
1.      Isi kurikulum pada ke-“Ilahiyan atau Ketuhanan”. Rumusan ini dimaksudkan berkaitan dengan Ketuhanan, mngenai Dzat Pencipta, Sifat, dan Kehendak-Nya, serta relasinya terhadap manusia dan alam semesta. Bagian kurikulum ini meliputi ilmu kalam, metafisika alam, ilmu fiqih, lmu akhlak, ilmu tentang al-Qur’an dan as-Sunnah,telah kita ketahui bahwasanya isi kurikulum ini berpijak pada wahyu Allah SWT.
2.      Isi kurikulum yang berorientasi pada “kemanusiaan”. Rumusan kurikulum ini berisi tentang perilaku manusia, baik manusia sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang senantiasa berpikir dan berakal. Bagian ini meliputi ilmu biologi manusia, politik, ekonomi, sejarah, kebudayaan, antropologi, linguistik, arsitek, seni, kebudayan, filsaafat, kedokteran, perdagangan, komunikasi, administrasi, matematika, dan lain sebagainya, Tentunya isi kurikulum ini berpijak pada ayat  anfusi.
3.      Isi kurikulum yang berorientasi pada “kealaman”. Rumusan ini berkaitan dengan segala fenomena lam semesta. Bagian kurikulum ini meliputi ilmu fisika, kimia, kehutanan, geofisika, botani, kelautan, astronomi, geologi, geografi, zoologi, biogenetik, dan lain sebagainya. Tentunya ilmu ini berpijak pada ayat-ayat afaqi.
F.    Sistem Penjenjangan Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan islam bersifat dinamis dan kontinu (berkesinambungan), disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan khusus, terutama masalah kemampuan inteligensi dan mental peserta didik. Untuk itu, sistem penjenjangan kurikulum pendidikan islam berorientasi pada kemampuan, pola, irama  perkembangan, dan kematangan mental pesrta didik. Dapat ditentukan bobot materi yang diberikan, misalnya:
a.       Untuk tingkat Dasar, SD/MI. Bobot materi hanya menyangkut pokok-pokok ajaran Islam, misalnya masalah akidah (rukun iman), masalah syari’ah (rukun Islam), dan masalah akhlak (rukun ihsan).
b.      Untuk tingkat Menengah Pertama, SMP/MTs. Bobot materi mencakup bobot materi yang diberikan pada jenjang dasar dan dtambah dengan argumen-argumen dari dalil naqli dan dalil aqli.
c.       Untuk tingkat Menengah Atas, SMA/SMK/MA. Bobot materi mencakup bobot materi yang diberikan pada jenjang dasar dan jenjaang menengah pertama ditambah dengan hikmah-hikmah dan manfaa dibalik materi yag diberikan.
d.      Untuk tingkat Perguruan Tinggi, Universitas/Jami’iyah. Bobot materi mencakup bobot yang diberikan pada jenjang dasar, menegah pertama, menengah atas, dan Perguruan Tinggi, dan ditambah dengan materi yang bersifat ilmiah dan filosofis. Materinya yang disusun untuk mencapai tiga tujuan institusional sebagai berikut :
1.      Membina pengertian yang dalam tentang islam, sehingga mahasiswa mampu mengabdikan diri untuk diri sendiri, kepentingan umat, dan kepentingan Islam.
2.      Menguasai ilmu yang menjadi spesialisasinya.
3.      Membina kepribadian mahasiswa yang seimbang melalui perkuliahan berbagi ilmu pengetahuan, misalnya mata kuliah bahasa Arab, budaya peradaban islam, dan sebagainya yang ditinjau dari perspektif Islam.
G.   Pola Organisasi Kurikulum Pendidikan Islam
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun dan disampaikan kepada peserta didik guna tercapainya tujuan pendidikan Islam atapun pembelajaran yang diterapkan.
Ada tiga desain kurikulum yang dapat diaplikasikan dalam pendidikan Islam, yaitu: 1) subyek centered design merupakan kurikulum yang berpusat pada bahan pembelajaran; 2) learned centered desaaign merupakan kurikulum yang mengutamakan peserta didik; 3) problem centered desaign merupakan kurikulum yang bertolak dari permasalahan yang dihadapi masyarakat.[10]
Namun kali ini penulis akan sedikit membahas klasifikasi jenis organisasi kurikulum yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu: (1) kurikulum sesuai mata pelajaran (subject curriculum), kurikulum pelajaran terpisah (separate subject curriculum), dan kurikulum pelajran gabungan (correlated curriculum); (2) kurikulum terpadu, ada yang berdasarkan social functions atau “mayor areas of living”, berdasarkan masalah-masalah, minat kebutuhan bakat pemuda (experience curriculum, activity curriculum), dan kurikulum inti (core curriculum).[11] Untuk lebih jelasnya perhatikan bahasan berikut ini.
1.      Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran Terpisah-pisah
Kurikulum ini bertujuan agar pemuda dapat mengenal hasil budaya dan pengetahuan umat manusia yang sudah ditemukan berabad silam. Generasi muda perlu mengenal, mencari, dan menemukanlagi apa yang telah diperoleh generasi pendahulu. Dengan demikian maka akan lebih mudah dan cepat membekali peserta didik dalam menghadapi masalah hidupnya.
Namun sayangnya, penggunaan kurikulum jenis ini sedikit sekali mendapat proporsi dalam desain kurikulum pendidikan Islam, dikarenakan desain ini masih dalam taraf pemula untuk peserta didik tingkat dasar dan kurang sesuai untuk tingkat selanjutnya.
2.      Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran Gabungan
Jenis ini merupkan modifikasi dari kurikulum pelaaran yang terpisah. Agar pengetahuan perserta didik lebih memadai, maka disusunlah hubungan antara dua mata pelajaran atau lebih, yang dapat dipandang sebagai kelompok yang memiliki hubungan dekat. Penulis mengambil contoh, misalnya pelajaran tentang fikih sholat akan berkaitan dengan keimanan (akidah), dan ke-khusyu’an (akhlak). Jenis kurikulum gabungan ini dapat dipadukan dan difungsikan antara beberapa pelajaran dengsn mengilangkan batas-batas setiap ilmu tersebut. Misalnya, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu balaghah, ilmu mantiq, ilmu ‘arudh dikelompokan sebagai ilmu alat, jenis ini sering disebut dengan broad field.
Desain kurikulum ini lebih baik diterapkan pada pola organisasi kurikulum pendidikan Islam. Walaupun demikian, pola ini belum memenuhi kriteria  kaffah  yang dapat menyangkut seluruh masalah kehidupan, sehingga kurang menggunakan interdisipliner. Misalnya interprestasi tentang ilmu tafsir hanya menggunakan ilmu bantu “kebasahan, asbab al-nuzul, qishash israiliyah, dan  ushul fiqih”,  belum menggabungkan interprestasi yang aktual dan kotekstual seperti kondisi ekonomi, geografis, sosialogis, biologis, psikologis, dan sebagainya. Dengan demikian hasil interprestasi umat Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah belum memenuhi kebutuhan karena hanya bersifat normatif. Ssuai Firman Allah SWT:

افتؤ منون ببعضا الكتاب وتكفرون ببعض.... (البقرة:٨٥)
“Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (QS. al-Baqarah: 85) 
Ayat diatas mengisyaratkan adanya keutuhan dalam memahami dan menerapkan sesuatu, tanpa ada yang terabaikan. Semua merupakan sebuah sistem yang komponennya saling terkait satu sama lain.
3.      Kurikulum Terpadu
Kurikulum ini merupakan usaha mengintegrasikan bahan pelajaran dari berbagai mata pelajaran, agar menghasilkan pelajaran yang integral. Integrasi ini tercapai dengan memusatkan pelajaran  pada masalah tertentu yang memerlukan pemecahannya dengan bahan dari berbagai disiplin ilmu . Bahkan mata pelajaran menjadi instrumen dan funsional untuk memecahkan masalah itu. Oleh karena itu, batas-batas antar mata pelajaran dapat ditiadakan.
Kurikulum terpadu dapat diterapkan  pada bagian-bagian sebagai berikut: (1) social funtions artinya kurikulum yang berkenaan dengan fungsi sosial; (2) Persistent  life situations arinya sebuah modifikasi fungsi sosial terkait dengan situasi yang selalu dialami manusia; (3) minat dan kebutuhan para pemuda; (4) activity curriculum berupa kegitan dan pengalaman peserta didik dalam pembelajran; (5) core curriculum artinya inti dar sebuah kurikulum dalam pendidikan.
Tampaknya jenis kurikulum integral ini selaras dengan pendidikan Islam, karena didalamnya mengintegrasikan semua masalah kehidupan tanpa terkecuali, sehingga kurikulum ini dapat menhasilkan manusia yang sempurna (insan kamil) serta menjadi manusia yang kaffah.  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
يأيها الذين أمنوا دخلوا في السلم كآفة...(البقرة: ٢٠٨)
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan” (QS. al-Baqarah: 208).


BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Telah kita bahwa kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagi bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan adalah ( manhaj/curriculum) adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantar lembaga pendidikan yang diinginkan. Oleh sebab itu kurikulum pendidikan Islam mencangkup seluruh komponen kehidupan manusia secara integral dalam suatu wadah yang dinamakan kurikulum pendidikan Islam.
Kurikulum pendidikan Islam yang disajikan secara terpadi dapat membentuk generasi rabbani sesuai nilai Islam itu sendiri. Dengan demikian, hakikat kurikulum pendidikan Islam akan benar-benar mengaplikasikan nilai-niali Ilahiyah, kemanusiaan, dan alam semesta.
Terakhir penulis menyampaikan bahwasanya kurikulum pendidikan Islam sudah seyogyanya mampu menetaskan output peserta didik yang berakhlak mulia dengan ketrampilan IPTEK yang memadai sehingga sanggup untuk menjadi khalifah Allah dimuka bumi.








DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto, Dwi. 2010. Propertic Learning Menjadi Cerdas Jalan Kenabian.
Yogyakarta:  Pro-U Media.
Harahap, Musaddad. Esensi Peserta Didik dalam Perspektif Islam, dalam Jurnal
Al-Thariqah, Vol. 1, No.2 Desember 2016.
Iqbal, Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. 2017. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kencana.
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sarwono, Sarlito W. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Siswanto. 1989. Kurikulum Pendidikan Tekhnik. Jakarta: Dirjen PT-PPLTK Depdikbud
Sukmadinata, Nana Suaodin.1989. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Dirjen PT-PPLPTK Depdikbub.
al-Syaibani, Umar Muhammad al-Tuumi. 1979. Falsafah Pendidikan Islam.
Terjemahan Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Tafsir, Ahmad. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.




[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002),h. 230
[2]Abdul Mujib dan Jusuf  Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2017), h. 122

[3] Ibid., h. 124
[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Sarlito W. Sarwno, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), h.29


[7] Umar Muhammad al-Taumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 519-522
[8] Abdul Mujib dan Jusuf  Mudzakir, Op.cit., h. 134
[9] Siswanto, Kurikulum Pendidikan Tekhnik, (Jakarta: Dirjen PT-PPLTK Depdikbud, 1989), h. 24
[10] Nana Suaodin Sukmadinata, Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Dirjen PT-PPLPTK Depdikbud, 1998), h. 123
[11] Abdul Mujib dan Jusuf  Mudzakir, Op.cit., h. 158


Tidak ada komentar:

    MALAIKAT CANTIK Oleh: Muhammad Ilham Sidiq   Pernah kita dengar tentang sebuah kisah tentang sosok malaikat yang nyata pada kehi...