KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Mata
Kuliah : Ilmu Pendidikan Islam
Dosen
Pengampu : Dr. Muhammad
Lailan Arqam, M.Pd.
Disusun
oleh :
1.
Muhammad
Davit (1700031043)
2.
Muh.
Ilham Sidiq (1700031045)
3.
Nurfajriyah (1700031048)
4.
Pramalia
Ulfy R.H (1700031046)
5.
Rizki
Ayu Lestari (1700031047)
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan karunia nikmat, berupa rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah tentang “Kurikulum Pendidikan Islam ” dengan tepat waktu. Serta sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita
Muhammad Shalallahu
‘alaihi Wassalam, beserta para keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang setia
dengan sunahnya.
Pada kesempatan kali ini kami akan
sedikit menguraikan materi seputar konsep “ Kurikulum”. Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan mengenai hakikat kurikulum, dasar, prinsip, dan fungsi kurikulum,
orientassi kurikulum, model konsep kurikulum, sistem penjenjangan kurikulum,
pola organisassi kurikulum, serta segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfat,
terutama bagi kami selaku penyusun makalah dan pada umumnya bagi para
mahasiswa sebagai sarana dalam belajar.
Untuk kesempurnaan makalah ini, kiranya kritik dan saran yang konstruktif dari
Bapak Dosen maupun pembaca sekalian. Sekian dan terima kasih.
Yogyakarta, November 2018
Penyusun Kelompok 8
DAFTAR
ISI
COVER
KATA PENGANTAR..........................................................................II
DAFTAR ISI.......................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hakikat Kurikulum Pendidikan..............................................................3
B. Dasar, Prinsip, dan
Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam......................4
C. Orientasi Kurikulum
Pendidikan Islam................................................11
D. Model-model Konsep
Kurikulum Pendidikan Islam...........................13
E. Isi Kurikulum
Pendidikan Islam..........................................................14
F. Sistem Penjenjangan
Kurikulum Pendidikan Islam.............................17
G. Pola Organisasi
Kurikulum Pendidikan Islam.....................................18
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………...………………21
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Segala aktivitas ilmiah memerlukan suatu rencana dan pengorganisasian
yang dilaksanakan secara sistematis, terstruktur, dan terukur. Demikian pula
dalam sebuah pendidikan, diperlukan adanya sitem terencana yang dapat mengantarkan proses
pendidikan sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses, pelaksanaan sampai
penilaian dalam sebuah pendidikan dikenal dengan sebutan “kurikulum
pendidikan”.
Sesuai dengan
pembahasan kali ini yaitu mengenai “kurikulum pendidikan Islam” penulis akan
mencoba menggali beberapa sumber terkait kurikulum pendidikan Islam itu
sendiri. Telah kita ketahui bahwasanya al-Qur’an dan hadis bukanlah buku sains,
buku fisafat, ataupun buku yang menjelaskan tentang seputar pengetahuan yang
spesifik dalam bidang tertentu. Walaupun al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu
baik di dunia ataupun di akhirat tetapi al-Qur’an hanya sebagai pemantik yang
menjelaskan pokok-pokok fundamental tentang kehidupan manusia. Hal demikian
dimaksudkan agar manusia mengetahui tujuan pokok hakikat kehidupan sebagai
hamba Allah SWT dan bisa terinspirasi oleh rahasia dan hikmah al-Qur’an untuk
mengembangkan segala bidang keilmuan, karena pada hakikatnya semua ilmu itu
berasal dari Sang Maha Pencipta.
Berdasarkan kedua
landasan dasar al-Qur’an dan al-Hadis, para cendekiawan muslim menyusun wawasan
mereka tentang kurikulum. Namun, agaknya ini para pakar pendidikan di kalangan
umat Islam belum menulis teori kurikulum secara rinci dan sistematik
sebagaimana yang dilakukan para cendekiawan Barat. Akan tetapi, ini bukan
berarti para cendekiawan Muslim belum memiliki wawasaan sama sekali mengenai
kurikulum pendidikan. Dikatan demikian karena jelas tatkala para cendekiawan
Muslim menyusun progam pendidikan dalam pembelajaran di sekolah yang di bangun
oleh mereka, kita dapat menemukan susunan mata pelajaran serta kegiatan yang
menggambarkan wawasan mereka tentang kurikulum.
Maka dari itu komponen
kurikulum dalam pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi
tujuan yang di cita-citakan, bahkan tujuan pendidikan tidak kan tercapai tanpa
adanya kurikulum pendidikan. Kurikulum mereupakan salah satu pokok dari
komponen pendidikan yang merupakan sebuah sistem dari komponen-komponen
tertentu. Komponen kurikuluum tersebut paling tidak mencangkup tujuan, struktur
progam, strategi pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian, penilaian hasil
belajar, bimbingan-penyuluhan, administrasi, dan supervisi pendidikan. Namun,
komponen-komponen tersebut belum memadaai sebagai komponen pendidikan. Untuk
itu komponen pendidikan setidaknya mencangkup empat klaster sebagai berikut:
1.
Klaster komponen dasar.
2.
Klaster komponen pelaksana.
3.
Klaster komponen pelaksana dan pendukung kurikulum.
4.
Klaster komponen usaha-usaha pendidikan.
Pada bagian
pembahasan InsyaaAllah, penulis akan membahas komponen kurikulum dasar dan pelaksana,
sedangkan komponen kurikulum lainya akan dibahas pada bagian klaster lainya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Kurikulum Pendidikan
Kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj
yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagi bidang
kehidupan.[1]
Sedangkan kurikulum pendidikan adalah ( manhaj/curriculum) adalah seperangkat
perencanaan dan media untuk mengantar lembaga pendidikan yang diinginkan.[2]
Bahkan alice miel mengatakan bahwa kurikulum
meliputi keadaan gedung, suasanasekolah, keinginan, keinginan, keyakinan,
pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani
disekolah(termasuk didalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam hal ini semua pihak
yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk kedalam kurikulum.
Dalam perkembangan selanjutnya pengertian
kurikulum tidak hanya terbatas pada program pendidikan namun juga dapat
diartikan menurut fungsinya.
1. Kurikulum
sebagai program studi. Pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari pleh
peserta didik di sekolah atau di instansi pendidikan lainnya.
2. Kurikulum
sebagi konten. Pengertiannya adalah data atau informassi yang tertera dalam buku-buku
kelass tampa dilengkapi dengan data atau informasi lainnya yang memungkinkan
timbulnya belajar.
3. Kurikulum
sebagai kegiatan berencana. Pengertiannya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan
di ajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil.
4. Kurikulum
sebagi hasil belajar. Pengertiannya adalah seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu
hasil tertentu tampa menpesifikasi cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil
itu, atau seperangkat hasil belajr yang direncanakan dan diinginkan.
5. Kurikulum
sebagai reproduksi kultular. Pengertiannya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan
masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat
tersebut.
6. Kurikulum
sebagai pengalaman belajar. Pengertiannya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di
bawah pimpinan sekolah.
7. Kurikulum
sebagai produksi. Pengertiannya adalah seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai
hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.
B. Dasar, Prinsip,
dan Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam
1. Dasar Kurikulum
Pendidikan Islam
Dasar kurikulum merupakan kekuatan-kekuatan
yang utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan
organisasi kurikulum. Dasar kurikulum dinamakan juga sumber kurikulum atau
determinan kurikulum (penentu). [3]
Herman H. Hone[4]
memberikan dasar kurikulum dengan tiga macam, yaitu:
1. Dasar
psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan hasil belajar dan
kebutuhan peserta didik. (the ability and needs of chilldren).
2. Dasar
sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntunan saah dari masyarakat (the
legimitate demands of society).
3. Dasar
filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadan alam semesta tempat hidup
kita (the kind of universe in which we live).
Dalam perspektif Islam, pendapat Herman diatas
belum bisa menjamin suatu kurikulum dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan, karena belum memasukan nilai dasar religius yang wajib diresapi
oleh peserta didik. Oleh karena itu, al-Syaibani[5]
merumuskan empat dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu: 1) dasar
religi, 2) dasar falsafah, 3) dasar psikologis, 4) dasar sosiologis, dan 5)
ditambah dasar organisatoris. Berikut ini penjelasannya:
a. Dasar Religi
Dasar yang dituangkan berdasarkan nilai-nilai
Islam ini merujuk pada Al-Qur’an maupun As-Sunnah, karena kedua kitab ini
bersifat universal bagi umat muslim dan menjadi landasan pokok hidupnya.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda :
انى قد تركت
فيكم ما ان اعمتم به فلن تضلو ابدا كتابالله وسنة نبيه
“Sesunggunya
aku telah meninggalkan untuk kamu, yang jika kamu berpegang teguh dengannya,
maka kau tidak tersesat untuk selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah
Nabi-Nya.” (HR. Hakim)
Disamping kedua sumber utama itu ada sumber lagi yang masih bisa dijadikan
pegangan umat Islam yaitu dalil ijtihadi, berupa hassil pemikiran para ulama yang tidak
berlawanan dengan prinsip Al-Qu’an dan As-Sunnah. Dalil ijtihadi dapat
berupa ‘ijma (konsensus para ulama), qiyas (analogi), istihan,
istishab, mashalih al-mursalah, madzab shahabi, sadz al-dzari’ah, syar’u man
qablana, dan u’ruf.
b. Dasar Falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar
filosofis sehingga susunan kurikulum mengandung sebuah kebenaran sebagai
pandangan hidup yang diyakini. Dasar filosofis memuat sistem nilai, baik yang
berkaitan dengan makna nilai makna hidup dalam kehidupan, masalah kehidupan,
norma-norma yang muncul dari individu, sekelompok masyarakat, maupun suatu
bangsa yang dilatarbelakangi pengaruh agama, kebudayaan, adat istiadat, dan
konsep individu tentang pendidikan.
Dasar filosofis rumusan kurikulum pendidikan Islam dirumuskan pada tiga
dimensi yaitu ontologis, epistomologis, dan aksiologis.
1. Dimensi
Ontologi
Dimensi ini mengarahkan kurikulum agar benyak memberi peserta didik
berhubungan lansung dangan objek-objek, serta berkaitan dengan pelajaran yang
memanipulasi benda-benda dan materi
kerja. Dimensi diambil dari proses pembelajaran Nabi Adam as. Yang diajarkan
Allah SWT tentang nama-nam benda, sebagaimana Firman Allah SWT:
و علم ءادم الاسماء كلها ثم عر ضهم على الملا ئكة فقال
انبؤا نى با سماء هؤلاء ان كنتم صا دقين (البقرة:٣١(
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda), seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada Malaikat, lalu (Allah)
berfirman:‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu termasuk
golongan yang benar.”
Implikasi
dimensi ontologi dalam kurikulum pendidikan ialah ahwa pengalaman yang
ditanamkan pada peserta didik tidak hanya sebatas pada alam fisik dan isinya
yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari, melainkan menjadi suat yang tidak
terbatas dalam realitas fisik. Maksud dari alam tak terbatas adalah alam
rohaniyah atau spiritual yang mengantarkan mausia pada keabadian.
2. Dimensi
Epistemologi
Perwujudan kurikulum yang valid harus
berdasarkan pendekatan metode ilmiah yang sifatnya integral dalam berpikir
menyeluruh, reflektif, dan kritis. Metode ini dilakukan melalui lima tahapan
yaitu keasadaran akan adanya masalah, perumusan masalah, identifikasi semua
masalah dan cara pemecahannya proyeksi disemua kosekuensi yang akan timbul
serta mengkaji konsekuensi tersebut dalam pengalaman. Jadi konstruksi itu
bersifat terbuka yang kesalahannya dapat diverifikasi bahkan ditolak serta
bersifat temporer dan tentatif.
3. Dimensi
Aksiologi
Dimensi ini mengarahkan pembentukan kurikulum
yang dirancang agar dapat memberikan kepuasan pada diri peserta didik supaya
memiliki nilai-nilai yang ideal, mampu hidup dengan baik, sekaligus dapat
menghindari nilai-nilai yang tidak diinginkan.
Berbagai macam aliran filsafat pada dasarnya
dapat dimanfaatkan sebagai khasanah pemikiran di bidang kurikulum pendidikan Islam.
Konsep dan teori dari berbagai macam aliran filsafat tidak bisa begitu saja
diterima atau ditolak, namun diseleksi terlebih dahulundan kemudian
dimodifikasi sesuai dengan khasanah pendidikan Islam. Hasil modifikasi antara
agama dan filsafat dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan
Islam dan Filsafat Idealisme
2. Pendidikan
Islam dan Filsafat Realisme-Natural
3. Pendidikan
Islam dan Fiulsafat Humanime Intelektual
4. Pendidikan
Islam dan Realisme Klasik
5. Pendidikan
Islam dan Naturalisme Romantik
6. Pendidikan
Islam dan Filsafat Pragmatisme
c. Dasar
Psikologis
Dasar ini memperhitungan kondisi psikologis
peserta didik yang berkaitan perkembangan jasmaniah, kematangan, minat bakat,
intelektual bahasa, emosi, sosial, kebutuhan hidup, keinginan individu dan
kecakapan.
Dasar psikologi terbagi menjadi dua macam
yaitu: Pertama, psikologi pelajar, hakikat peserta didik itu dapat
didik, dibelajarkan, dan diberi sejumlah materi pengetahuan. Oleh karenanya hal
yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kurikulum memberi peluang belajar bagi
peserta didik tersebut, dan bagaiman
proses belajar berlangsung, serta dalam keadaan bagaimana peserta didik dapat
memperoleh hasi yang maksimal. Kedua, psikologi anak, karena setiap
peserta didik mempunyai kepentingan, yankni untuk memperoleh cara belajar
yangefektif denagan berusaha mengembangkn bakatnya.
Perbedaan usia mempengarui cara pandang dan
berpikir manusia. Oleh karenya anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan
orang dewasa, biarlah anak-anak bermain karena itu bagian dari dunianya.
d. Dasar
Sosiologis
Dasar sosiologis memberiakan pengaruh bahwa
kurikulum pendidikan memegan peranan penting terhadap penyampaian dan
pengembangan budaya, proses sosialisasi individu, dan merekonstruksi
masyarakat. Meskipun sering mengalami kesulitan dalam bentuk kebudayaan yang
bagaimana yang sekiranya perlu disampaikan pada proses sosialisasi dan bentuk
masyarakat yang seperti apa yang perlu direkonstruksi sesuai dengan tuntutan
masyarakat. Hal tersebut tidak mudah menkaji tuntutan masyarakat secara
menyeluruh karena keterbatasan manusia.
Dan terutama adanya pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang
menyebabkan masyarakat sesalu dalam proses perkembangan, karen memang tuntutan
dari masyarakat selalu berubah-ubah, tidsk selalu sama denagn realita.
e. Dasar
Organisatoris
Dasar ini mengenai bentuk penyajian bahan
pelajaran yakni pengatuaran kuriulum. Dasar ini berpijak pada teori psikologi asosiasi yang menganggap
keseluruhan adalah jumlah-jumlah bagian-bagiannya. Dengan demikian, menjadikan
kurikulum sebagai mata pelajaran yang terpisah-pisah. Kemudian disusul oleh
teori Gesalt[6]
yang menganggap keseluruhan mempengaruhi organisasi kurikulum yang tersusun
secara rumit tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Kedua
teori psikologi tersebut tidak lepas dari kelebihan maupun kekurangan
masing-masing.
2. Prinsip
Pendidikan Islam
Adapun prinsip-prinsip pendidikan Islam
sebagai berikut:
a. Prinsip yang
berorientasi pada tujuan sebagai hamba dan khalifah Allah SWT.
b. Prinsip
relevansi kurikulum dalam kehidupan
realitas.
c. Prinsip
efisiensi dan efektivitas dalam penerapan kurikulum.
d. Prinsip
fleksibelitas progam kurikulum.
e. Prinsip
integritas antara iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan.
f.
Prinsip kontinuita, bagaimana kurikulum dapat
istiqomah dalam pelaksanaannya.
g. Prinsip
objetivitas sesuai dengan tujuan kurikulum pendidikan Islam.
h. Prinsip
demokratis menghendaki untuk pelaksanaaan kurikulum dilakukan secara demokrasi.
i.
Prinsip analisis kegiatan kurikulum.
j.
Prinsip individualisasi yaitu kuri kulum sudah
selaknya memperhatikan perbedaan pembawaan lingkungan yang meliputi seluruh
aspek peserta didik.
k. Prinsip
pendidikan semuur hidup menjadikan manusia terus belajar untuk mengetahui ilmu
hingga akhir hayatnya.
Seperangkat kurikulum sedapatnya harus
memberikan peranan positif yang bersifat dinamis terhadap kebutuhan setiap
peserta didik dan masyarakat pada umumnya. Hal demikian dikarenakan kebutuhan
manusia selalu berubah dan berkembang, sehingga tuntunan kurikulum bersifat
futuristik.
Menurut al-Syaibani[7],
prinsip utama dalam kurikulum pendidikan Islam ialah (1) berorientasi pada
Islam, termasuk ajaran dan nilai-nilainya; (2) prinsip menyeluruh (universal),
baik dalam tujuan maupun kandungannya; (3) prinsip keseimbangan antara tujuan
dan kandungan kurikulum; (4) prinsip interaksi dan keterkaitan antara bakat,
minat, kemampuan-kemampuan, dan
kebutuhan peserta didik serta alam sekitar fisik dan sosial di mana para siswa
hidup; (5) prinsip pemeliharaan dalam perbedaan-perbedaan individu peserta
didik mengenai bakat, minat, kemampuan-kemampuan, kebutuhan-kebutuhan, dan
masalah-masalahnya; (6) prinsip perkembangan dan perubahan seirin dengan
tuntunan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai agama; dan (7) prinsip
integritas dalam mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas yang terkandung
dalam kurikulum dengan kebutuhan anak didik, masyarakat, dan tuntunan zaman
tempat anak didik berada.
3. Fungsi
Kurikulum Pendidikan Islam
Fungsi kurikulum pendidikan Islam adalah
sebagai berikut[8]:
(1) alat untuk mencapai tujuan dan harapan manusia sesuai dengan cita-cita; (2)
pedoman dan progam yang harus dilakukan oleh subyek dan objek pendidikan; (3)
sebagai fungsi untuk berkesinambungan berupa persiapan menempuh jenjang sekolah
berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan; (4) sebagai
standar penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan.
C. Orientasi
Kurikulum Pendidikan Islam
Pada dasarnya, orientasi kurikulum mengacu
pada lima point penting yaitu: orientasi pada nilai-nilai, orientasi pada
kebutuhan sosial, orientasi pada tenaga kerja, orientasi pada peserta didik,
dan orientasi pada masa depan berupa perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dari kelima jenis orientasi tersebut, penulis mencoba memodifikasi pada
orientasi peandidikan Islam dengan ulasan sebagai berikut:
1. Orientasi pelestarian
Nilai-Nilai
Dalam pandangan Islam unsur nilai dibagi
menjadi dua macam, yaitu nilai yang turun dari Allah SWT atau dikenal nilai Ilahiyah,
dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradabab manusia itu sendiri
dinamakan nilai Insaniyah. Kedua nilai tersebut selanjutnya tumbuh
membentuk norma-norma kehidupan yang dianut dan melembaga pada masyarakat yang
memegang nilai tersebut.
Dalam perspektif Islam manusia merupakan hamba
dan khalifah Allah di muka bumi. Manusia mempunyai kewajiban memahami,
menghayati, dan mengamalkan, serta melestariakan nilai yang diyakininya berupa
hal utama nilai akidah dan akhlak Islam itu sendiri. Upaya ini juga harus
ditopang dengan komitmen terhadap hubungan vertikal/ hablu minallah dan
hubungan horizontal/ hablu minnans atau habblu minan al-alam. Tugas kurikulum
selanjutanya kurikulum pendidikan mampu untuk memberikan sebuah situasi
dan progam tertentu agar dapat tercapainnya dua tujuan di atas.
2. Orientasi pada
Kebutuhan Sosial
Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang
ditandai dengan melahirkannya sebuah peradaban dan kebudayaan yang berpengaruh pada peubahan perkembangan
yang pesat di berbagai aspek kehidupan, walaupun tidak mencapai titik puncak
kulminasi. Orientasi kurikulum terhadap kebutuhan sosial berupa konstribusi
positif dalam perkembangan sosial dan kebutuhannya, sehingga mampu menghsilkan
output yang berkualitas mampu menjawab tantangan zaman dengan segala
permasalahannya dan memenuhi kebutuhan hidup manusia. Maka dari itu kurikulum
modern selalu berupaya mengatasi masalah kebutuhan hidup masyarakat.
3. Orientasi pada
Tenaga Kerja
Sebagai makhluk biologis manusia tentunya
memiliki unsur mekanisme jasmani berupa organ fisik yang membutuhkan berbagai
kebutuhan lahiriyah seperti sandang, pangan, dan papan, serta berbagai
kebutuhan manusiawi lainnya.
Sebagai konsekuensinya, kurikulum harus mampu
memenuhi kebutuhan manusia yang kompleks. Kurikulum mampu melahirkan alumni
atau output peserta didik yang memiliki kemampuan dan ketrampilan yang
profesional, produktif, kreatif, dan penuh inovatif. Lembaga pendidikan
diharapkan juga mampu mendayagunakan seluruh sumber seluruh potensi peserta
didik sehingga dapat melahirkan generasi yang produktif dalam mendayagunakan
segala sumber daya baik dari alam ataupun dari berbagai situasi kondisi
terntentu.
Hal ini selaras dengan Sabda Rasulullah SAW
tentang pengusaan ilmu bagi kemaslahatan manusia:
من اراد
الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الاخرة فعليه باالعلم من ارادهما فعليه بالعلم
“Barang
siapa yang menginginkan kebahagiaan didunia maka hendaklah mengusai ilmu, dan
barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat maka hendaklah mengusai ilmu,
serta barangsiapa mengingingkan keduanya hendalah mengusai ilmu.” (al-Hadist)
4. Orientasi pada
Peserta Didik
Orientasi pada pesrta didik merupakan kompas
arah dalam sebuah kurikulum untuk memenuhi kebutuhan pesrta didik yang
disesuaikan dengan kemampuan, bakat, dan minatnya. Untuk merealisasikan
orientasi pada pada kebutuhan peserta didik memerlukan tiga domain pembelajran
yaitu, domain afektif, kognitif, dan psikomotorik.
5. Orientasi pada
Masa Depan Berupa Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perjalanan zaman ditandai dengan kemajuan
berbagai bidang kehidupan umat manusia, oleh karenanya kemajuan zaman
menghasilkan berbagai produk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berpengaruh terhadap kelangsungan umat manusia itu sendiri. Hampir setiap lini
kehidupan manusia tidak lepas dari keterlibatan IPTEK didalamnya.
Dalam perspektif kurikulum pendidikan Islam
diperluakan mengintegrasikan kemajuan IPTEK yang diraih manusia dengan nilai
Iman Taqwa. Hal ini sejalan sabda Nabiyullah SAW:
من ازداد علما
ولم يزدد فى الدنيا هدى لم يزدد من الله الا بعدا
“Barangsiapa
yang bertambah ilmunya, tetapi didunia tidak bertambah petunjuknya, maka
(sesungguhnya) ia semakin jauh kepada Allah”. (HR. Dailami)
D. Model-model
Konsep Kurikulum Pendidikan Islam
1.
Kurikulum sebagai Model Subjek Akademis, mengutamakan pengetahuan, sehingga pendidikan diarahkan lebih
bersifat intelektual. Model subjek akademis (rasionalisasi-akademis) mengalami
perkembangan menjadi tiga struktur disiplin yaitu:
a.
Aliran yang melanjutkan struktur disiplin. Menonjolkan proses
penelitian ilmiah, baik masalah sosial, nilai-nilai, maupun kebijakan
tokoh-tokoh pemerintah.
b.
Pelajar terpadu. Menggunakan beberapa disiplin ilmu terpadu yang
diperoleh dari konsep-konsep pokok, proses ilmiah, gejala alam, dan masalah yang
dihadapi sehingga pendekatannya adalah interdispliner.
c.
Pendidikan fundamental. Mementingkan isi dan materi, disamping cara
atau proses berfikir.
2.
Kurikulum sebagai Model Humanistik (Aktualisasi Diri), mengutamakan pengembangan potensi peserta didik. Model ini
menciptakan unsure kreativitas, spontanitas, kemandirian, kebebasan, aktivitas,
minat, dan motivasi intrinsik.
3.
Kurikulum sebagai Model Rekonstruksi Sosial, mengutamakan proses belajar yang dapat mengubah tingkah laku
individu, sehingga nantinya diharapkan peserta didik mampu menjadi “agent of
change” dalam masyarakat. Model ini bersumber dari aliran pendidikan
interaksional. Desain dalam kurikulum ini adalah sebagai berikut:
a.
Menghadapkan peserta didik pada tantangn, ancaman, hambatan, dan
gangguan yang dihadapi manusia.
b.
Memberi kontribusi pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah sosial
yang harus dijawab dengan aktivis kurikulum.
c.
Pola-pola organisasi membuat kegiatan pleno yang membahastema utama
yang dijadikan bahan dalam diskusi kelompok.
4.
Kurikulum sebagai Model Teknologi, mengutamakan penyusunan program pengajaran dan rencana pelajaran
dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam konteks kurikulum ini mempunyiai
dua aspek yaitu hardware seperti proyektor, TV, LCD, radio, dan software
berupa teknik dan penyusunan kurikulum, baik secara mikro maupun makro.
5.
Kurikulum sebagai Model Proses Kogitif, mengutamakan pengembangan kemampuan mental, yakni berpikir dan
berkeyakinan bahwa kemampuan dapat ditransfer atau diterapkan pada
bidang-bidang lain. Model ini berpijak pada psikologi kognitif yakni kekuatan pikiran.
E. Isi Kurikulum
Pendidikan Islam
Fimc dan Crunkitton menyatakan bahwa ada
beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum
pendidikan yaitu; (1) waktu dan biaya; (2) tekanan internal dan eksternal; (3)
persyaratan isi kurikulum pusat maupun daerah; (4) tingkat dari isi kurikulum
yang disajikan. Selain beberapa persyaratan diatas isi kurukulum haruslah
memenuhi kriteria dalam pencapaiannya, seperti signifiakasi yang berhubungan
dengan kebutuhan sosial, dan melihat aspek pragmatisnya dan disesuaikan dengan minat yang mengikuti
perkembangan manusia, serta melihat struktur disiplin ilmu yang disepakati.[9]
Untuk menyesuaikan dengan kualifikasi isi
kurikulum pendidikan Islamperlu dirumuskan sebagai berikut: (1) materi tidak
menyalahi fitrah manusia; (2) relefansi dengan tujuan pendidikan Islam; (4)
sesuai tingkat usia dan perkembangan peserta didik; (5) melakukan praktik
langsung untuk peserta didik dengan memberikan kunci materi yang empiris; (6)
materi dirancang agar memiliki relevansi problematika kekinian; (7) adanya
metode yang mampu memperhatiakan keberagaman peserta didik; (8) memperhatikan
aspek sosial seperti dakwah Islam; (9) materi yang disusun mempunyai pengaruh
positif terhadap jiwa pesrta didik; (10) adanya ilmu-ilmu alat untuk mempelajari disiplin ilmu yang
lain.
Dalam konferensi Islam di Islamabad II
menghasilkan keputusan bahwa kurikulum terbagi menjadi dua macam, yaitu parenial
(naqliyah) dan acquired (aqliyah).
Parenial diterima melalui
wahyu yang terdapat dalam al-Qur’an dan
as-Sunnah yaitu; ilmu al-Qur’an yang meliputi qira’at, hifdz, tafsir, sunnah,
sirah, tauhid, fikih, ushul fiqh, serta bahasa al-Qur’an. Sedangkan aquired diperoleh melalui
hasil pemikiran, imajinasi, dan pengalaman indra manusia seperti; seni
imajinatif, seni intelek, ilmu murni, dan ilmu praktik.
Isi kurikulum yang seperti diatas ternyata
masih mencerminkan dikotomi keilmuan antara ilmu dari Allah dan ilmu produk
manusia.Padahal dalam epistemologi Islam semua ilmu sejatinya berasal deri
Allah SWT semata, sedangkan manusia hanya menginterprestasikannya. Untuk itu
penulis menawarkan kurikulum pendidikan kedalam tiga orientasi sesuai Firman
Allah SWT berikut ini:
سنريهم
ءاياتنا فى الافاق وفى أنفسهم حتى يتبين لهم انه الحق اولم يكف بربك انه على كل
شىء شهيد (فصلت: ٥٣)
“Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk
dan pada diri mereka sendiri (anfus), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya Dia menyaksukan segala sesuatu?”
Ayat tersebut sejatinya mengandung tidga isi
kurikulum dalam pendidikan Islam, yaitu:
1. Isi kurikulum
pada ke-“Ilahiyan atau Ketuhanan”. Rumusan ini dimaksudkan berkaitan dengan
Ketuhanan, mngenai Dzat Pencipta, Sifat, dan Kehendak-Nya, serta relasinya
terhadap manusia dan alam semesta. Bagian kurikulum ini meliputi ilmu kalam,
metafisika alam, ilmu fiqih, lmu akhlak, ilmu tentang al-Qur’an dan
as-Sunnah,telah kita ketahui bahwasanya isi kurikulum ini berpijak pada wahyu
Allah SWT.
2. Isi kurikulum
yang berorientasi pada “kemanusiaan”. Rumusan kurikulum ini berisi tentang
perilaku manusia, baik manusia sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial
yang senantiasa berpikir dan berakal. Bagian ini meliputi ilmu biologi manusia,
politik, ekonomi, sejarah, kebudayaan, antropologi, linguistik, arsitek, seni,
kebudayan, filsaafat, kedokteran, perdagangan, komunikasi, administrasi,
matematika, dan lain sebagainya, Tentunya isi kurikulum ini berpijak pada ayat anfusi.
3. Isi kurikulum
yang berorientasi pada “kealaman”. Rumusan ini berkaitan dengan segala fenomena
lam semesta. Bagian kurikulum ini meliputi ilmu fisika, kimia, kehutanan,
geofisika, botani, kelautan, astronomi, geologi, geografi, zoologi, biogenetik,
dan lain sebagainya. Tentunya ilmu ini berpijak pada ayat-ayat afaqi.
F. Sistem
Penjenjangan Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan islam bersifat dinamis
dan kontinu (berkesinambungan), disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
khusus, terutama masalah kemampuan inteligensi dan mental peserta didik. Untuk
itu, sistem penjenjangan kurikulum pendidikan islam berorientasi pada
kemampuan, pola, irama perkembangan, dan
kematangan mental pesrta didik. Dapat ditentukan bobot materi yang diberikan,
misalnya:
a. Untuk tingkat Dasar,
SD/MI. Bobot materi hanya menyangkut pokok-pokok ajaran Islam, misalnya masalah
akidah (rukun iman), masalah syari’ah (rukun Islam), dan masalah akhlak (rukun
ihsan).
b. Untuk tingkat
Menengah Pertama, SMP/MTs. Bobot materi mencakup bobot materi yang diberikan
pada jenjang dasar dan dtambah dengan argumen-argumen dari dalil naqli dan
dalil aqli.
c. Untuk tingkat
Menengah Atas, SMA/SMK/MA. Bobot materi mencakup bobot materi yang diberikan
pada jenjang dasar dan jenjaang menengah pertama ditambah dengan hikmah-hikmah
dan manfaa dibalik materi yag diberikan.
d. Untuk tingkat
Perguruan Tinggi, Universitas/Jami’iyah. Bobot materi mencakup bobot yang
diberikan pada jenjang dasar, menegah pertama, menengah atas, dan Perguruan Tinggi,
dan ditambah dengan materi yang bersifat ilmiah dan filosofis. Materinya yang
disusun untuk mencapai tiga tujuan institusional sebagai berikut :
1. Membina
pengertian yang dalam tentang islam, sehingga mahasiswa mampu mengabdikan diri
untuk diri sendiri, kepentingan umat, dan kepentingan Islam.
2. Menguasai ilmu
yang menjadi spesialisasinya.
3. Membina
kepribadian mahasiswa yang seimbang melalui perkuliahan berbagi ilmu pengetahuan,
misalnya mata kuliah bahasa Arab, budaya peradaban islam, dan sebagainya yang
ditinjau dari perspektif Islam.
G. Pola Organisasi
Kurikulum Pendidikan Islam
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk
bahan pelajaran yang disusun dan disampaikan kepada peserta didik guna
tercapainya tujuan pendidikan Islam atapun pembelajaran yang diterapkan.
Ada tiga desain kurikulum yang dapat
diaplikasikan dalam pendidikan Islam, yaitu: 1) subyek centered design merupakan
kurikulum yang berpusat pada bahan pembelajaran; 2) learned centered
desaaign merupakan kurikulum yang mengutamakan peserta didik; 3) problem
centered desaign merupakan kurikulum yang bertolak dari permasalahan yang
dihadapi masyarakat.[10]
Namun kali ini penulis akan sedikit membahas klasifikasi jenis organisasi
kurikulum yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu: (1) kurikulum sesuai mata
pelajaran (subject curriculum), kurikulum pelajaran terpisah (separate
subject curriculum), dan kurikulum pelajran gabungan (correlated
curriculum); (2) kurikulum terpadu, ada yang berdasarkan social
functions atau “mayor areas of living”, berdasarkan masalah-masalah,
minat kebutuhan bakat pemuda (experience curriculum, activity curriculum),
dan kurikulum inti (core curriculum).[11]
Untuk lebih jelasnya perhatikan bahasan berikut ini.
1. Kurikulum
Berdasarkan Mata Pelajaran Terpisah-pisah
Kurikulum ini bertujuan agar pemuda dapat
mengenal hasil budaya dan pengetahuan umat manusia yang sudah ditemukan berabad
silam. Generasi muda perlu mengenal, mencari, dan menemukanlagi apa yang telah
diperoleh generasi pendahulu. Dengan demikian maka akan lebih mudah dan cepat
membekali peserta didik dalam menghadapi masalah hidupnya.
Namun sayangnya, penggunaan kurikulum jenis
ini sedikit sekali mendapat proporsi dalam desain kurikulum pendidikan Islam,
dikarenakan desain ini masih dalam taraf pemula untuk peserta didik tingkat
dasar dan kurang sesuai untuk tingkat selanjutnya.
2. Kurikulum
Berdasarkan Mata Pelajaran Gabungan
Jenis ini merupkan modifikasi dari kurikulum
pelaaran yang terpisah. Agar pengetahuan perserta didik lebih memadai, maka
disusunlah hubungan antara dua mata pelajaran atau lebih, yang dapat dipandang
sebagai kelompok yang memiliki hubungan dekat. Penulis mengambil contoh,
misalnya pelajaran tentang fikih sholat akan berkaitan dengan keimanan
(akidah), dan ke-khusyu’an (akhlak). Jenis kurikulum gabungan ini dapat
dipadukan dan difungsikan antara beberapa pelajaran dengsn mengilangkan
batas-batas setiap ilmu tersebut. Misalnya, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu
balaghah, ilmu mantiq, ilmu ‘arudh dikelompokan sebagai ilmu alat, jenis ini
sering disebut dengan broad field.
Desain kurikulum ini lebih baik diterapkan
pada pola organisasi kurikulum pendidikan Islam. Walaupun demikian, pola ini
belum memenuhi kriteria kaffah yang dapat menyangkut seluruh masalah
kehidupan, sehingga kurang menggunakan interdisipliner. Misalnya interprestasi
tentang ilmu tafsir hanya menggunakan ilmu bantu “kebasahan, asbab al-nuzul,
qishash israiliyah, dan ushul
fiqih”, belum menggabungkan
interprestasi yang aktual dan kotekstual seperti kondisi ekonomi, geografis,
sosialogis, biologis, psikologis, dan sebagainya. Dengan demikian hasil interprestasi
umat Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah belum memenuhi kebutuhan karena hanya
bersifat normatif. Ssuai Firman Allah SWT:
افتؤ منون
ببعضا الكتاب وتكفرون ببعض.... (البقرة:٨٥)
“Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap
sebagian yang lain?” (QS. al-Baqarah: 85)
Ayat diatas mengisyaratkan adanya keutuhan
dalam memahami dan menerapkan sesuatu, tanpa ada yang terabaikan. Semua
merupakan sebuah sistem yang komponennya saling terkait satu sama lain.
3. Kurikulum
Terpadu
Kurikulum ini merupakan usaha mengintegrasikan
bahan pelajaran dari berbagai mata pelajaran, agar menghasilkan pelajaran yang
integral. Integrasi ini tercapai dengan memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan
pemecahannya dengan bahan dari berbagai disiplin ilmu . Bahkan mata pelajaran
menjadi instrumen dan funsional untuk memecahkan masalah itu. Oleh karena itu,
batas-batas antar mata pelajaran dapat ditiadakan.
Kurikulum terpadu dapat diterapkan pada bagian-bagian sebagai berikut: (1) social
funtions artinya kurikulum yang berkenaan dengan fungsi sosial; (2) Persistent life situations arinya sebuah modifikasi
fungsi sosial terkait dengan situasi yang selalu dialami manusia; (3) minat dan
kebutuhan para pemuda; (4) activity curriculum berupa kegitan dan
pengalaman peserta didik dalam pembelajran; (5) core curriculum artinya
inti dar sebuah kurikulum dalam pendidikan.
Tampaknya jenis kurikulum integral ini selaras
dengan pendidikan Islam, karena didalamnya mengintegrasikan semua masalah kehidupan
tanpa terkecuali, sehingga kurikulum ini dapat menhasilkan manusia yang
sempurna (insan kamil) serta menjadi manusia yang kaffah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
يأيها الذين
أمنوا دخلوا في السلم كآفة...(البقرة: ٢٠٨)
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara
keseluruhan” (QS.
al-Baqarah: 208).
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Telah kita bahwa kurikulum biasa diungkapkan
dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia
pada berbagi bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan adalah (
manhaj/curriculum) adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantar
lembaga pendidikan yang diinginkan. Oleh sebab itu kurikulum pendidikan Islam
mencangkup seluruh komponen kehidupan manusia secara integral dalam suatu wadah
yang dinamakan kurikulum pendidikan Islam.
Kurikulum pendidikan Islam yang disajikan
secara terpadi dapat membentuk generasi rabbani sesuai nilai Islam itu sendiri.
Dengan demikian, hakikat kurikulum pendidikan Islam akan benar-benar
mengaplikasikan nilai-niali Ilahiyah, kemanusiaan, dan alam semesta.
Terakhir penulis menyampaikan bahwasanya
kurikulum pendidikan Islam sudah seyogyanya mampu menetaskan output peserta
didik yang berakhlak mulia dengan ketrampilan IPTEK yang memadai sehingga
sanggup untuk menjadi khalifah Allah dimuka bumi.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiyanto, Dwi. 2010. Propertic Learning Menjadi Cerdas Jalan Kenabian.
Yogyakarta: Pro-U Media.
Harahap, Musaddad. Esensi Peserta Didik
dalam Perspektif Islam, dalam Jurnal
Al-Thariqah, Vol. 1, No.2 Desember 2016.
Iqbal, Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. 2017. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kencana.
Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Sarwono, Sarlito W. 2010. Pengantar
Psikologi Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Siswanto.
1989. Kurikulum Pendidikan Tekhnik. Jakarta: Dirjen PT-PPLTK Depdikbud
Sukmadinata, Nana Suaodin.1989. Prinsip
dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Dirjen PT-PPLPTK Depdikbub.
al-Syaibani, Umar Muhammad al-Tuumi. 1979. Falsafah Pendidikan Islam.
Terjemahan Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.
Tafsir, Ahmad. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
[7] Umar Muhammad al-Taumi al-Syaibani,
Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang,
1979), h. 519-522
[10] Nana Suaodin
Sukmadinata, Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta:
Dirjen PT-PPLPTK Depdikbud, 1998), h. 123

Tidak ada komentar:
Posting Komentar