Kamis, 31 Oktober 2019

Pemahaman Peta Konsep Kajian Aqidah Islam

Pemahaman Peta Konsep Kajian Aqidah Islam

BAB I
PENDAHULUAN
ABSTRAK
Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (Tauhid) merupakan titik sentral keimanan, karena itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah SWT. Iman atau yakin kepada Allah SWT adalah ilah (sembahan) yang benar. Allah berhak disembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah Pencipta hamba-hamba-Nya. Dialah yang memberi rezeki kepada manusia. Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah akan mempunyai nilai ibadah di sisi Allah. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manusia sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mendirirkan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus". ( Al-Bayyinah (98): 5 )
“ Sungguh Aku tidak menciptakan jinn dan manusia, melainkan agar mereka beribadah  kepada-Ku.” ( Qs. Adz-Dzariyat (51): 56 ).
Dengan kita merenungi beberapa Firman Allah diatas kita wajib percaya 100%  akan Allah Tuhan kita.  Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dia pasti adanya. Dialah yang tanpa permulaan dan tanpa penghabisan. Kita yakini benar Wujudullah, kita amalkan Tauhidullah berupa Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah dan Tauhid Ulluhiyah atau Asma’wa-Shiffat. Serta benar-benar mengamalkan kalimat Tauhid kita kepada Allah yaitu dengan tidak mengotori kalimat La Illaha Ilallah kepada suatu kesyirikan.
Maka dari itu iman kita yakini dalam hati, ucapkan dengan lisan, dan diamalkan  dengan perbuatan. Sehingga umat muslim harus konsekuen, dengan apa yang diyakini dalam hidupnya  dan diucapkan oleh lisanya. Yaitu dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, memperbanyak amal shaleh, menghindari perbuatan tercela yang merusak iman kita kepada Allah SWT.



Kata Kunci: Iman, Wujudullah,  Tauhidullah, Hakikat dan Dampak La Ilaha

Illallah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN IMAN
§  Definisi Iman Secara Bahasa
Secara etimologi, iman berarti pembenaran hati.
§  Definisi Iman Secara Istilah
Secara terminologi, iman berarti pembenaran dengan hati,pengakuan dengan lisan,dan pengamalan dengan anggota badan. Bahkan imam syafi’i meneritakan bahwa ini adalah ijmak para sahabat,tabi’in dan generasi setelah mereka yang bertemu dengan mereka dalam keadaan beriman.
Kita semua telah mengetahui jawaban Rasulullah SAW dalam beberapa hadits. Beliau juga meneyebut banyak hal (dalam sabda beliau) seperti akhlak mulia, murah hati, sabar, cinta Rasul dan kaum Anshar, serta memiliki rasa malu dan banyak hal lain, itu disebut dengan sebutan iman. Keimanan yang berarti pembenaran secara batin. Namun, beliau tidak mengkhusukan iman dengan perkara-perkara yang bersifat batin. Sebaliknya, beliau menyebutkan bahwa amalan-amalan lahiriyah juga disebut dengan keimanan, dan sebagainya lagi ada yang beliau sebut dengan islam.
Maka dari itu iman kepada Allah adalah jantung/inti dari agama islam yang merupakan point utama rukun iman.


 Dan berikut ini beberapa perjalanan dalam proses keimanan manusuia:
a. Proses Munculnya Iman
Proses munculnya iman seseorang adalah sebuah perjalanan yang panjang,  benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang berkesinambungan. Benih yang unggul apabila disertai pemeliharaan yang intensif, besar kemungkinan menjadi subur. Demikian halnya dengan benih Iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian seseorang baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan. Pada dasarnya proses munculnya iman seseorang tergantung keinginannya menerima hidayah atau tidak sesuai firman Allah:
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa ingin beriman, hendaklah ia beriman dan barangsiapa ingin kafir biarlah ia kafir”…….(QS.Al-Kahf [18]: 29). Dan juga firman Allah:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ


“Jika kamu kafir Allah juga tidak memerlukan imanmu dan Dia tidak meridhoi kekafiraran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu”……(QS. Az-Zumar [39] : 7). Maka proses perawatan iman untuk muncul dan  tumbuh serta sangat diperlukan sekali yaitu dengan cara mengikuti majelis ilmu agama.
b. Proses Munculnya Keraguan
Rasulullah SAW bersabda: “Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).” (HR. Muslim).
Proses munculnya keraguan dalam iman bisa terjadi pada setiap diri manusia hal ini disebabkan oleh beberapa faktor tertentu yang dapat mempengaruhi terutama syaitan dan pergaulan. Faktor utama itulah yang akan mempengaruhi muncul seperti mulai berandai-andai tentang Allah dan mulai berprasangka kepada Allah tentang apa yang tidak diketahuinya. Sehingga Allah melarang kita untuk berprasangka, seperti  firman Allah SWT yang artinya: ”Wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa”.......(QS. Al-Hujarat [49]:12)  dan hadits Rasulullah SAW yang artinya: Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkara yang paling dusta”.(HR. Bukhari-Muslim)

c.Proses Munculnya Ilmu
Proses munculnya ilmu dalam konteks keimanan adalah diawali seseorang dengan pembelajaran terhadap ilmu agama seperti firman Allah yang artinya: .... Dan apabila dikatakan, ”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah[(58]:11)  Setelah seseorang memiliki keimanan tentu ia akan berusaha menjalankan perintah yang di Imaninya yaitu Allah SWT, maka ia akan menemukan banyak perintah Allah SWT untuk mentadaburi mahluk dan alam ciptaan-Nya dengan mepelajari maka muncullah ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan teknologi.

B.  WUJUD ALLAH SWT
Wujud (ada) -Nya Allah SWT adalah sesuatu yang badihiyah. Namun demikian untuk membuktikan wujud-Nya dapat dikemukakan beberapa dalil, antara lain :
1.      Dalil Fitrah
Allah SWT menciptakan manusia dengan fitrah ber-Tuhan atau dengan kata lain setiap anak manusia dilahirkan sebagai seorang muslim. Firman Allah dalam surah AR-rum [30]: 30 yamg artinya: ” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fithrah) itu. Tidak ada perubahan terhadap ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”,dan Rasulullah SAW bersabda :
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapak nyalah ( yang berperan ) ”mengubah” anak itu menjadi seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi........” (HR. Bukhari )
Fithrah dalam hadits diatas bisa kita pahami sebagai Islam karena Rasulullah SAW hanya menyebutkan kedua orang tua bisa berperan menyahudikan, menashranikan atau memajusikan, tanpa menyebut ”mengislamkan”. Jadi hadits diatas bisa kita pahami setiap anak dilahirkan sebagai seorang yang berpotensi muslim. Namun, demikian fithrah manusia tersebut barulah merupakan potensi dasar yang harus dipelihara dan dikembangkan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia sebenarnya memiliki potensi untuk ber-Tauhid hanya saja bagaimana nantinya lingkungan dan pola pikir pribagi yang mentukan apakah mannusia mau berfikir tentang ke-Esaan Allah atau tidak peduli dengan adanya Tuhan Semesta Alam.

2.Dalil Akal
Dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan drinya sendiri, hewan, pepohonan dan alam semesta semuanya siapakah yang mengatur kalau bukan Yang Maha Menguasai. Hal ini membuktikan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Seperti fiman Allah dalam al-Qur’an surah Ar-Rum [30]: yang artinya: ”Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dalam waktu yang ditentukan. Dan sungguh banyak manusia mengingkari pertemuan degan Tuhan-Nya”. Dan pada ayat yang berikutnya surah Ar-Rum[30]:20 yang artinya: ”Dan diantara tanda -tanda (kebesaran-Nya) ialah ia menciptakan kamu dari tanah, tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak”.
Itulah beberapa firman Allah yang menyebutkan tentang keberadaan-Nya yang Maha Pencipta dan Pemelihara karena segala sesuatu tentu ada yang mencitakan dan ada yang memelihara. Ada 9 teori fenomologis untuk membuktikan Allah SWT ada dan berkuasa. Fenomena-fenomena tersebut adalah:
1.      Fenomena Terjadinya Alam Semesta
2.      Fenomena Kehendak
3.      Fenomena Kehidupan
4.      Fenomena Pengabulan Do’a
5.      Fenomena Hidayah
6.      Fenomena Kreasi
7.      Fenomena Hikmah
8.      Fenomena Inayah
9.      Fenomena Kesatuan
Demikian beberapa fenomena menurut Sa’id Hawa yang kami kutip pada buku Kuliah Aqidah Islam karya Prof. Dr. H, Yunahar Ilyas, LC., MA. Yang sempat beliau kutip juga dari Sa’id Hawa dalam bukunya ”Allah Jalla Jala-luhu”(1989).

3. Dalil Naqli
Sekalipun secara  fitrah manusia adapat mengakui adanya Tuhan dan dengan akal pikiran manusia dapat membuktikannya, namun manusia tetap memerlukan dalil Naqli (al-Qur’an dan as-Sunah) untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya yaitui Allah SWT dengan segala macam dan sifat-Nya. Sebab fitrah dan akal tidak akan bisa menjelaskan siapa Tuhan yang sesunguhnya. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah [2]: 2 yang artinya:”Kitab (al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dan pada ayat selanjutnya ayat ke-21 yang artinya: ”Wahai manusia! Sembalah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.  Dengan demikian pemikiran/akal manusia  tidak menyimpang dari kebenanaran terhadap persangkaannya kepada Tuhan Semesta Alam.

C. TAUHIDULLAH
Esensi iman kepada Allah SWT adalah tauhid yaitu mengesakannya,baik dalam Dzat, asma’was-shiffaat, maupun af’al (perbuatan)-Nya. Secara sederhana tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau tahapan yaitu :
a. Tauhid Rububiyah
Secara etimologis kata ”Rab” sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, menyesaikan suatu perkara dan lai-lain. Namun untuk lebih sederhana dalam hubunganya Tauhid Rububbiyah kita mengambil beberapa arti saja yaitu mencipta, memberi rizki, mengelola dan memiliki segala sesuatu.
Rububiyah adalah mengEsakan Allah dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini bahwa dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk, seperti firman Allah ”Allah menciptakan segala sesuatu”. (QS.Az-zumar (39) : 62)  dan yang lain ” Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rizkinya (QS. Hud (11) : 6.)

b.Tauhid Mulkiyah
Kata malik yang berarti raja dan malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang sama yaitu ma-la-ka  si pemilik sesuatu-pada hakikatnya-adalah raja dari sesuatu yang dimilikinya itu. Dalam pengertian bahasa seperti ini, Allah SWT sebagai Rabb yang memiliki alam semesta (Al’alamin) adalah raja dari alam semesta tersebut, Dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap alam semesta tersebut. Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pemilik dan raja langit dan bumi dan seluruh isinya, antara lain dalam surah Al Baqarah [2] : 107  : ”Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adaalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong ” (QS.Al Baqarah [2]  : 107 )



c.Tauhid Ilahiyah
Kata Ilab berakar dari kata a-la-ba ( alif- la- ba ) yang mempunyai arti antara lain tentram, tenang,  lindungan, cinta dan sembah(’abada). Semua kata-kata ini relevan sengan sifat-sifat dan kekuasaan zat Allah SWT seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an yang artinya : ” Orang- orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram ” (QS.Ar-Ra’du [13]:28). Dan firman Allah yang yang lain yang artinya: ”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah saja, dan juhilah Thagut”. (QS. An-Nahl [16]:36).
Jadi Tauhid Ilahiyah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Al-Ma’bud(yang berhak disembah). Dalam hal ini Allah SWT juga berfirman yang artinya: Seungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan Selain Aku, maka sembahlah Aku (beribadahlah) kepada Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatKu. (QS. Thaha [20]: 14).
Demikianlah beberapa bagian-bagian Tauhid agar kita semakin yakin dan percaya akan segala keagungan Allah SWT.

D.HAKIKAT DAN DAMPAK KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH
a.  Makna La Ilaha Illallah
Makna la ilaha illallah dalah meyakini dan megiqrarkan bahwa tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah, menaati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapapun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.
Jadi makna kalimat ini secara global adalah ” tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Dengan demikian La Ilaha Illallah kalimat Tauhid ini  mengandung pengertian sesungguhnya Tiada Tuhan yang benar-benar benar berhak disembah selain Allah SWT.

b.Makna Kata La Ilaha Illallah Harus Diiringi Muhammad Rasulullah
Iqrar La Ilaha Illallah tidak dapat diwujudkan secara benar tanpa mengikuti petunjuk yang disampikan oleh Rasulullah SAW. Oleh sebab itu iqrar La Ilaha Illallah harus diikuti iqrar Muhammadad Rasulullah. Dua iqrar ini dikenal dengan dua kalimat syahadat (syahadatain) yang menjadi pintu gerbang seseorang memasuki agama Allah SWT.
Iqrar La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah bila dipahami secara benar tentu akan memberikan dampak positif yang besar kepada setiap pribadi muslim yang diantara lain dapat diukur dari dua sikap yang dapat dilahirkan yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun didunia ini. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah At-Taubah [9]: 24 yang artinya: ”Katakanlah: ’Jika bapak-bapak, anak-anak, istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya,dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampaai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”
Maka dari itu kita sebagai muslim harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi semua yang ada didunia ini.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Telah kita uraikan bersama dari Pengertian Iman (Proses Munculnya Iman, Proses Munculnya Keraguan, dan Proses Munculnya Ilmu), Wujudullah, Tauhidullah, serta Hakikat dan Dampak Kalimat La Ilaha Illallah. Maka dari itu mari kita benar-benar mengamalkan point-point yang telah diuraikan didalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan mengamalkan tersebut diharapkan dapat menguatkan Aqidah kita yang merupakan pondasi awal berdiri tegaknya agama islam. Dengan kuatnya pondasi Aqidah maka akan terciptanya banguan islam yang kokoh tegak berdiri. Sehingga akan terwujudlah masyarakat isam yang sebenar-benarnya sesuai al-Qur’an dan as-Sunah yang mengantarkan pemeluknya menuju kebahagian dunia wal akhirat.

B.     SARAN
Dalam penyusunan makalah ini kami Penulis memohon maaf, masukan dan kritikan dari Bapak Dosen bila mana banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan  makalah ini  agar nantinya kami dapat belajar untuk lebih baik lagi dalam  penulisan  makalah yang lain. Melihat uraian diatas dalam konsep aqidah, sudah sepantasnya kita berkaca pada diri sendiri untuk berintropeksi memperbaiki diri menuju pribadi  yang lebih baik dimata Allah dengan selalu meningkatkan iman dan taqwa kita setiap saat.




DAFTAR PUSTAKA
 Fauzan, Al-Fauzan, Shalih. 2014. Kitab Tauhid. Jakarta: Ummul Qura.
Ilyas, Yunahar. 1992.  Kuliah Aqidah Islam. Yogyakarta:
Lembaga Pengembangan Studi Islam.
Majelis Tarjih, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2014. Himpunan Putusan
Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
islam-tentang.html#ixzz4tBj123JA.
Sumber: www.google.co.id/search?q=proses+munculnya+iman.


Kemuhamadiyahan




KEMUHAMADIYAHAN

DAFTAR ISI

COVER                  
KATA PENGANTAR……………………………………………….II
DAFTAR ISI………………..……………………………………….III
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah……………………………………………….1
B.     Rumusan Masalah…………………………..…………………………1
C.      Tujuan Penulisan……………………………………………..……..………1
BAB II PEMBAHASAN
Uraian Materi
A.    Kehidupan dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi………………………………………………………………….2
B.     Ulasan Singkat dan Landasan Dalil PHIWM..……………...……………………………………………….…..3
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………….11
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.               Latar Belakang Masalah
Seiring berjalanya waktu dunia terus mengalami kemajuan baik secara ruh maupun fisik yang berpengaruh kepada perubahan disegala aspek kehidupan manusia. Umat manusia khususnya umat Islam semakin membutuhkan Ilmu Pengetahuan Teknologi untuk memudahkan berbagai kegiatan dalam beribadah, terutama dalam konteks muamalah duniawiyah.
Rumusan Masalah
1.      Apakah pengaruh IPTEK terhadap kehidupan manusia terutama umat Islam.
2.      Kenapa IPTEK menjadi tolak ukur penentu suksesnya dakwah islamiayah diera globalisasi ini.
3.      Bagaimana proses pemanfaat IPTEK secara syar’i sehingga dapat bermanfaat bagi umat islam.

B.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk menumbuhkan semangat dalam memanfaatkan dan mengembangakan IPTEK demi kesejahteraan umat manusia.
2.      Menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi mahasiswa dalam menggunakan IPTEK secara tepat.
3.      Menganalisa dan mengkritisi dinamika  dampak positif dan negative dari perkembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi bagi umat Islam.


BAB II
          PEMBAHASAN         


Uraian Materi

A.   Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

1.     Setiap warga Muhammadiyah wajib menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai sarana kehidupan yang penting untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat[1].
2.     Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki sifat-sifat ilmuwan, yaitu; kritis[2], terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya[3], serta senantiasa menggunakan daya nalar[4].
3.     Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian tidak terpisahkan dengan iman dan amal shalih yang menunjukkan derajat kaum muslimin[5], dan membentuk pribadi ulil albab[6].
4.     Setiap warga Muhammadiyah dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberikan peringatan, memanfaatkan untuk kemashlahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad dan dakwah[7].
5.      Menggairahkan dan mengembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam. Dalam kegiatan ini termasuk menyemarakkan tradisi di seluruh lingkungan warga Muhammadiyah.

B.    Landasan Dalil

1.     Kebahagiaan Hidup  Dunia dan Akhirat (Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122 )
Berkaitan kebahagiaan hidup didunia maupun  kebahagiaan hidup diakhirat tentunya semua insan manusia sangat menginginkan kedua hal tersebut. Namun, perlu disadari manusia harus benar-benar kembali kepada dua rujukan dasar al-Qur’an dan  as-Sunnah, sehingga kita perlu sebuah narasi besar untuk perubahan. Islam yang berkemajuan itu sendiri merupakan sebuah konsep yang sangat besar, dan itulah yang akan melakukan perubahan didalam umat islam[8].
Hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat tanpa meremehkan satu sama lain. Selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjalani hidup agar bermanfaat bagi orang lain sehingga terwujud masyarakat islam yang haqiqi.   Mari kita pahami baik-baik landasan dalil dibawah ini.

a.         An-Nahl (16):43
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
b.      Al-Qashash (28):77
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ فِى وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ ٱلْأَرْضِ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِين
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
c.       Al-Mujadillah (58):11
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
d.    At-Taubah (9):122
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
2.     Sikap Kritis (Q.s Al-Isra (17):36)
Kita semua tidak bisa menutup mata, jikalau masih adannya kesenjangan antara banyaknya jumlah umat Islam di Indonesia dengan perilaku yang tidak mulia diseluruh level masyarakat[9]. Maka sebagai umat Islam yang baik kita dituntut untuk selalu peka terhadap segala permasalahan yang sedang terjadi sekitar lingkungan kita. Besikap bijak jangan sampai acuh tak acuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut dibawah ini ada landasan ayat al-Qu’an berkaitan dengan sikap kritis.  

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.



3.     Menerima Segala Kebenaran dengan  (Q.S Az-Zumar (39):18 )
Dalam mengahadapi dunia kehidupan yang sarat akan masalah dan tantangan yang kompleks umat Islam terutama warga Muhammdiyah tidak cukup hanya mengandalkan  usaha-usaha pragmatis dengan  berjalan mengikuti hukum alamiah belaka tanpa berpijak pada prisip-prinsip gerakannya yang bersifat ideologis [10]. Maka dari itu setiap individu harus membuka diri untuk meraih ilmu sebanyak mungkin yang paling baik dan benar. Kita harus bisa membuat hubungan dengan kalangan manapun selagi tidak menyekutukan Allah, semua kerjasama dalam membangun peradaban dan untuk memudahkan manusia itu tidak dilarang oleh agama. Jangan bersifat kolot dan eksklusif terhadap ilmu dunia sehingga umat Islam tidak tertinggal oleh orang-orang non-muslim. Berikut landasan dalilnya.
ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.
4.     Senantiasa Menggunakan Daya Nalar (Q.s Yunus(10):101)
Peradaban global yang tengah bangkit sekarang ini juga ada kerusakan yang bersifat akumulatif, kerusakan dunia yang bersifat global dewasa ini yang menciptakan banyak sekali permasalahan dunia dan nyaris tidak bisa untuk diatasi seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan, ketidakadilan, sampai pada tsunami budaya atau kejatuhan ekologi lingkungan hidup[11].
Berkaitan dengan nalar maka manusia dituntut untuk memperhatikan berbagai fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar. Bagaimana manusia dituntut untuk  mempelajari berbagai hikmah baik diberbagai bidang kehidupan. Senantiasa melakukan perbaikan diri dan realistis dengan keadaan zaman yang semakin berkembang, tidak pasif  hanya pada sebatas budaya dan juga ilmu agama yang mendoktrin, tetapi mengimplementasikan segala pengetahuan kita untuk ibadah kepada Allah semata.
قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ
        Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

5.  Allah Akan Mengangkat Derajat Kaum Muslimin yang Beriman dan Beramal Shalih.( Al-Mujadillah (58):11)
Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut akidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah duniawiyah, dan sebagainya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Ayat dibawah ini menjelaskan untuk bersemangat menuntut ilmu, berlapang dada, menyiapkan kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu, bersemangat belajar, menyiapkan segala sumberdaya untuk meningkatkan keilmuan, dan senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan[12]. Jadi menuntut itu sangat ditekankan kepada setiap muslim demi memudahkan kehidupanya dan Allah juga akan mengangkat derajat orang-orang beriman sekaligus berilmu.
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
6.     Pribadi Ulil Albab   (Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20)
Muhammadiyah memandang bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan umat manusia yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama, melahirkan keunggulan lahiriyah dan ruhaniyah.  Adapun dakwah dan tajdid bagi Muhammadiyah  merupakan jalan perubahan untuk mewujudkan Islam sebagai agama bagi kemajuan hidup umat manusia sepanjang zaman. Dalam perspektif  Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang berkemajuan , yang kehadiranya membawa rahmat bagi semesta alam[13].
Menjadi pribadi yang selalu berpikir kreatif dalam menghadapi segala permasalahan hidup yang kompleks sesuai dengan tuntutan zaman, maka kita harus menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa serta mengusai berbagai bidang ilmu pengetahuan teknolo, berikut beberapa ayat dan dalilnya.


a.       Al-Baqoroh (2):197

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَاب


(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

b.      Ali Imron (3): 7 dan 190-191

Ali Imron ayat 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَاب


 Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Ali Imron ayat 190-191

إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبَابِ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

c.       Al-Maidah (5):100

 قُل لا يَستَوِي الخَبيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَو أَعجَبَكَ كَثرَةُ الخَبيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يا أُولِي الأَلبابِ لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”.
d.     Ar-Ra’d (13):19-20)
أَفَمَنْ يَّعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمٰىۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيثَاقَ
Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. Yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,

7.     Internalisasi Ilmu Pengetahuan (Q.s Al-Baqarah (2):151; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Seperti yang terjadi dewasa ini, kami akan kutip beberapa realita potret pendidikan yang terjadi di Muhammadiyah. Sebagai contoh pelajaran al-Islam dan Kemuhammadiyahan, pelajaran AIK yang dianggap benteng moral dan ideologi anak didik dilembaga pendidikan Muhammadiyah masih diajarkan sebatas kognitif dari pada afektif, sehingga menjadikan peserta didik hanya cerdas menghafal, secara realita dilapangan banyak anak didik Muhammadiyah justru menunjukan perilaku yang jauh dari harapan.Cara berbusana, bertutur kata, maupun semangat beribadah mereka tidaklah mencerminkan akhlaq mulia, sebagaimana tujuan AIK diajarkan[14].
Berkaitan dengan internalisasi ilmu pengetahuan maka sudah sepantasnya kita mengamalkan apa yang kiata dapat tidak hanya sebatas kita dengar terus kita sia-siakan begitu saja, harus ada action secara nyata.


a.       Al-Baqarah (2):151-152
كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ  
 Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
b.      At-Taubah (9):122
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

c.       Amalan yang Tidak Terputus (HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh”.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.  Kebahagiaan Hidup  Dunia dan Akhirat (Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122 )
2.      Sikap Kritis (Q.s Al-Isra (17):36)
3.     Menerima Segala Kebenaran dengan  (Q.S Az-Zumar (39):18 )
4.      Senantiasa Menggunakan Daya Nalar (Q.s Yunus(10):101)
5.      Allah Akan Mengangkat Derajat Kaum Muslimin yang Beriman dan Beramal Shalih.( Al-Mujadillah (58):11)
6.       Pribadi Ulil Albab   (Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20)
7.      Internalisasi Ilmu Pengetahuan (Q.s Al-Baqarah (2):151; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi)
Dari ketujuh point diatas dapat kisimpulkan bahwasanya kita seabagai warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya harus menjadi generasi terbaik yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih kebahagaian yang hakiki baik dunia maupun akhirat, dengan prinsip bekerja atau bermuamalah duniawiyah semata-mata untuk mencari ridho-Nya dan juga bekal negeri akhirat. Memanfaatkan segala ilmu pengetahuan untuk kepentingan ibadah, meraih akhirat tanpa meninggalkan sedikitpun kewajiban manusia sebagai khalifah dimuka bumi.


Video Pendidikan













DAFTAR PUSTAKA

Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan

 di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House.

Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD
bekerjasama dengan Suara Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2016. Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.
            Yogyakarta: Semesta Ilmu



[1] Q.s An-Nahl (16):43; Al-Qashash (28):77; Al-Mujadillah (58):11; At-Taubah (9):122
[2] Q.s Al-Isra (17):36
[3] Q.S Az-Zumar (39):18
[4] Q.s Yunus(10):101           
[5] Q.s Al-Mujadillah (58):11
[6] Q.s Al-Baqarah (2):127; Ali Imron (3): 7,190-191; Al-Maidah (5):100; Ar-Ra’d (13):19-20
[7] Q.s Al-Baqarah (2):151-152; At-Taubah (9):122, HR. Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Hambal, Ad-Darymi
[8] Dikutip dari  pemikiran Din Syamsudin…. Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House hal 5
[9] Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.Yogyakarta: Semesta Ilmu hal 59

[10] Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD hal 3

[11] Dikutip dari  pemikiran Din Syamsudin…. Faozan Amar,dkk. 2012. Reaktualisasi Islam Kontekstualisasi Islam Berkemajuan di Tengah Peradaban Global. Jakarta: Al-Wasat Publishing House hal 8

[12] http://harian.analisadaily.com/kota/news/allah-akan-mengangkat-derajat-orang-berilmu/439211/2017/10/25 disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, Prof Dr Abdullah Jamil MA
[13] Nashir, Haedar. 2016. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LPSI UAD hal 40
[14] Setiawan, Farid dan Sucipto. 2016. Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.Yogyakarta: Semesta Ilmu hal 34-35


    MALAIKAT CANTIK Oleh: Muhammad Ilham Sidiq   Pernah kita dengar tentang sebuah kisah tentang sosok malaikat yang nyata pada kehi...